KASIH ALLAH
KASIH ALLAH
1
Yohanes 4:9 (TB)
“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa
Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup
oleh-Nya.”
Oleh:
Pdt. Dr. Naysalmin Lumbaa, M.Th
Rasul Yohanes menuliskan bagian ini kepada jemaat untuk
menegaskan pentingnya hidup dalam kasih. Ini adalah suatu bagian pastoral dan
pengajaran bagi orang percaya, bagaimana membangun relasi dengan sesama.
Yohanes menegaskan bahwa kasih antar sesama tidak bersumber dari manusia itu
sendiri, melainkan berasal dari Allah. Pada ayat 8 ditegaskan bahwa Allah
adalah kasih. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kasih bukan sekadar salah satu
sifat Allah, melainkan bagian dari hakikat-Nya. Mattew Hendry mengatakan bahwa “kodrat
dan jati diri-Nya adalah kasih, kehendak dan pekerjaan-Nya terutama adalah
kasih”[1].Artinya,
kasih merupakan natur Allah yang dinyatakan secara nyata dalam relasi-Nya
dengan manusia.
Istilah “kasih” dalam bagian ini berasal dari kata agapē,
yang diartikan dalam bahasa Indonesia kasih sayang, afeksi atau cinta.[2]
Dalam pemahaman modern, istilah ini sering diartikan sebagai kasih tanpa batas
atau tanpa syarat. Namun secara biblika, agapē menunjuk pada kasih yang
aktif, yang dengan sengaja memilih dan rela berkorban, bahkan bagi mereka yang
sebenarnya tidak layak menerimanya. Itulah kasih Allah kepada manusia[3]
Bob Utley menegaskan abhwa bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allah yang
terlebih dahulu mengasihi kita orang-orang yang berdosa dan memberontak” [4]Matthew
Hendry mengatakan “Dia mengasihi kita, saat kita tidak memiliki kasih
terhadapNya, saat kita berada dalam kesalahan, kesengsaraan, dan darah kita
sendiri, saat kita tidak layak dikasihi, pantas dihukum, tercemar, dan najis,
serta perlu dibersihkan dari dosa-dosa kita dalam darah yang sakral” [5]
Dengan demikian, Allah adalah sumber kasih yang sejati, dan Dialah yang
mengaruniakan kasih itu kepada manusia.
Kasih Allah tidak berhenti pada hakikat-Nya semata, tetapi
dinyatakan secara konkret di dalam sejarah manusia. Yohanes menegaskan bahwa
kasih itu dinyatakan “di tengah-tengah kita,” yang menunjuk kepada peristiwa
inkarnasi Kristus. Hal ini sejalan dengan Yohanes 1:14 yang menyatakan bahwa
Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Dalam peristiwa ini,
Allah hadir secara nyata di dalam dunia, masuk ke dalam realitas manusia. Bob
Utley menegaskan bahwa semua manfaat dan berkat dari Allah datang melalui
Kristus.[6]
Itulah kuasa inkarnasi.
Bentuk nyata dari kasih itu adalah ketika Allah Bapa
mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia. Kata “mengutus” berasal dari
bahasa Yunani apostellō, yang berarti mengutus dengan otoritas dan
tujuan tertentu.[7]
Sementara itu, frasa “Anak-Nya yang tunggal” menunjuk kepada Yesus Kristus
sebagai satu-satunya Anak Allah. Tindakan Allah ini menunjukkan kedalaman
kasih-Nya: Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, melainkan menyerahkan-Nya
bagi manusia yang berdosa. Di dalam kasih-Nya yang tidak terbatas, Allah secara
aktif memilih untuk berkorban demi keselamatan manusia.
Tujuan dari pengutusan tersebut adalah supaya manusia
memperoleh hidup melalui Dia. Frasa “hidup oleh-Nya” tidak hanya berbicara
tentang hidup kekal di masa depan, tetapi juga menunjuk pada kehidupan rohani
yang dimulai sejak sekarang—yaitu relasi yang dipulihkan antara manusia dan
Allah. Bob Utley mengatakan bahwa frasa ini merupakan kebergantungan, sebuah
tanggapan iman dan suatu keharusan[8]
Melalui iman kepada Kristus, manusia tidak lagi menjadi seteru Allah, melainkan
diperdamaikan dengan-Nya. Hal ini sejalan dengan Yohanes 3:16, bahwa setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang
kekal. Yesus sendiri menegaskan dalam Yohanes 14:6 bahwa Ia adalah jalan,
kebenaran, dan hidup, dan tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa selain
melalui Dia.
Dengan demikian, Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan
bagi manusia untuk memperoleh keselamatan. Ia datang untuk mendamaikan manusia
dengan Allah, menjadi korban pengganti bagi dosa manusia, dan melalui
pengorbanan-Nya memberikan hidup yang kekal.
Respons yang tepat terhadap kasih Allah adalah hidup di
dalam iman kepada-Nya. Setiap hari orang percaya dipanggil untuk mempercayakan
hidup sepenuhnya kepada Allah dan membangun relasi yang benar dengan-Nya
melalui doa, ibadah, dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu,
kasih Allah yang telah diterima juga harus dinyatakan dalam kehidupan etis,
yaitu dengan mengasihi sesama. Dengan demikian, orang percaya tidak hanya
menerima kasih Allah, tetapi juga menjadi saluran kasih itu bagi orang lain.
[1] https://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=62&chapter=4&verse=9
[2] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=26
[3] BDAG
Lexicon, Biblework 10
[4] https://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=62&chapter=4&verse=9
[5] Ibid
[6] Bob
Utley, Tafsiran Bob Utley, https://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=62&chapter=4&verse=9
[7]
Friberg Lexicon, Biblework 10
[8] Bob
Utley, Tafsiran Bob Utley https://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=62&chapter=4&verse=9
Komentar
Posting Komentar