Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

 Berkata dengan akal budi

Amsal 10:19 (TB)  Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. 

Pdt. Naysalmin Lumbaa, M. Th


        Kebanyakan kita berpikir bahwa saat kita banyak berbicara, orang lain akan menilai kita sebagai orang pintar/orang yang pandai, yang memiliki banyak wawasan atau pengetahuan. Sebab pandangan umum memang demikian, menilai bahwa orang yang pandai berbicara adalah orang pintar. Apakah anggapan ini benar? 

        Dalam aspek-aspek kecerdasan, kepandaian berbicara adalah salah satu bentuk kecerdasan (kepandaian) yang disebut kepandaian linguistik (kemampuan berbahasa). Ada orang yang bisa menguasai 3 atau bahkan 4 bahasa sekaligus. Itu adalah salah satu bentuk kecerdasan. Ada yang sangat pandai dalam berorasi, beretorika, berdebat, berkhotbah, mengajar, berpidato, itu semua membutuhkan kemampuan berbicara diatas rata-rata. 

Namun Raja Salomo dalam Amsal 10 banyak sekali menyinggung tentang perkataan khususnya ayat 19, ia mengatakan bahwa justru orang yang dapat menahan bibirnyalah yang berakal budi. Mengapa demikian? Karena menurutnya, didalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. 

Dalam teks aslinya 

Berob (di dalam) debarim (kata-kata/perkataan) lo (tidak) yehdal (ketinggalan/pasti ada) pasa (dosa)

        Secara literal dapat diterjemahkan "dalam banyak berkata-kata dosa tidak ketinggalan/pasti ada. Mengapa Demikian? Karena dalam banyaknya perkataan yang kita ucapkan, baik yang disadari secara penuh atau sekilas terlontar dari bibir, akibat kurangnya kemampuan menahan diri saat kita sedang bersemangat bercerita, atau saat emosi kita meluap-luap (entah sedih, senang, marah, takut atau bentuk ekpresi emosi lainnya), kerap kali kata-kata yang kita ucapkan bukan lagi perkataan yang baik, tetapi perkataan yang tidak baik. Perkataan yang menghina orang lain, merendahkan orang lain, melukai hati orang lain, perkataan yang disertai kesombongan, perkataan yang kurang patut, perkataan kebohongan, dsb. 

Terkadang dengan maksud "bercanda" Kita menyinggung fisik orang lain, atau menghina ketidak mampuan seseorang. Padahal ketika dia tidak mampu dalam apa yang kita mampu, belum tentu kita mampu dalam kemampuan yang orang itu kuasai. kita juga kadang tidak sadar meremahkan orang karena penyakitnya, karena keadaan ekonomi dan status sosialnya yang "biasa" dalam masyarakat. Kadang kita tidak segan berkata yang keras kepadanya karena statusnya tersebut. 

Tentu ini tindakan yang salah! 

        Itu sebabnya Salomo menegaskan tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Salomo tidak melarang kita berkata-kata, tetapi mengajarkan supaya kita dapat menahan bibir kita supaya tidak cepat berbicara, memberikan komentar negatif, menghakimi orang lain, mencibir orang lain, merendahkan orang lain atau mengatakan sesuatu yang tidak baik dan benar tentang orang lain (bergosip). Marilah kita menggunakan akal budi dalam berkata-kata supaya perkataan kita yang keluar adalah perkataan baik. Setiap perkataan kita harus disertai dengan akal budi (setiap kata dipikirkan) supaya perkataan itu tidak melukai atau menyakiti orang lain. Menahan diri bukan berarti tidak berbicara sama sekali, tetapi berbicara yang penting, yang berguna yang memberkati orang lain terlebih berkenan kepada Allah. 


So, mari kita sama-sama belajar berkata-kata disertai akal budi, mari kita memastikan perkataan kita adalah perkataan yang baik, yang dapat menjadi berkat bagi sesama terlebih memuliakan Tuhan. 

Tuhan Yesus Memberkati


Amin

Go-Shine Ministry

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus