Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus
Perjalanan Iman Para Gembala
Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus
Eksposisi Lukas 2:12, 15-16
Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa
Pada bagian ketiga ini akan diuraikan tentang bagaimana usaha para
gembala untuk bertemu Kristus, sehingga akhirnya mereka sungguh-sungguh
berjumpa dengan Yesus. Dari kisah ini, terdapat tiga hal penting yang dapat dipelajari dari
usaha para gembala dalam perjumpaan mereka dengan Kristus.
1.
Menunjukkan Usaha
Sungguh-sungguh untuk Mencari
Pada ayat 12,
malaikat memberikan tanda kepada para gembala. Setelah mereka menerima tanda
itu, mereka pergi ke Betlehem untuk menemui Bayi Yesus. Mereka menjumpai bayi
itu tepat seperti (sesuai) dengan pemberitaan malaikat:
“Kamu akan
menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam
palungan.”
Perlu
digarisbawahi bahwa malaikat hanya memberikan tiga petunjuk kepada para
gembala:
(1)
Bayi itu lahir di Kota Daud, yang sudah
dipahami oleh para gembala sebagai Betlehem,
(2)
Dibungkus dengan lampin, dan
(3)
Dibaringkan di dalam palungan
Petunjuk ini sangatlah minim untuk dapat
langsung menemukan lokasi Yesus. Kondisi sosial-ekonomi pada masa itu juga
menunjukkan bahwa besar kemungkinan penduduk Betlehem memiliki kandang ternak.
Karena itu, para gembala harus berusaha dengan keras untuk menemukan di manakah
Yesus dilahirkan. Sangat mungkin mereka mencari dengan penuh kegigihan:
bertanya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rumah ke rumah lain, dari
satu penginapan ke penginapan lain, tentang seorang bayi yang baru saja lahir.
Ditambah lagi, kondisi geografis Betlehem
diperkirakan berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Yerusalem (Douglas, 2002, p. 188), Betlehem kemungkinan merupakan daerah yang
sepi pada malam hari. Dalam website holylandsite.com dijelaskan bahwa:
Terdapat dua lokasi utama Padang
Gembala—Fransiskan dan Ortodoks Yunani—yang secara tradisional dikaitkan dengan
penampakan malaikat kepada para gembala, dengan jarak antarkeduanya kurang dari
1 km. Keduanya berada di desa Beit Sahour, sekitar 2 km di sebelah timur Betlehem,
sehingga Gereja Kelahiran Yesus masih dapat terlihat dari lokasi tersebut.
Kedua situs didukung oleh bukti arkeologis dan tradisi yang kuat, namun Padang
Gembala Ortodoks Yunani memiliki reruntuhan yang lebih banyak dan penggunaan
historis yang lebih panjang, sementara situs Fransiskan lebih mudah diakses
bagi peziarah dan wisatawan.(Shepherds’ Field Bethlehem, n.d.).
Meskipun
diperkirakan jarak dari padang penggembalaan itu ke Btelehem sekitar 2 KM, Mereka
berupaya berjalan kaki pada malam hari untuk sampai ke tempat itu. Mereka
menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh: melawan dinginnya angin malam,
menghadapi berbagai risiko dan bahaya yang mungkin terjadi. Namun, mereka tidak
menghiraukan bahaya-bahaya tersebut. Mereka tetap berusaha dengan keras.
Ketaatan sejati tidak berhenti pada mendengar
firman, tetapi diwujudkan dalam usaha konkret untuk mencari kehendak Allah.
Para gembala mengajarkan bahwa iman yang hidup selalu melibatkan tindakan
aktif: melangkah, mencari, dan bersungguh-sungguh.
Sering kali kita tidak lagi menunjukkan usaha
yang sungguh-sungguh untuk bertemu Tuhan. Kita kehilangan kegigihan rohani.
Rasa malas, hujan, ketiadaan kendaraan, larangan atau komentar orang lain,
bahkan hambatan-hambatan kecil sering kali menjadi alasan untuk tidak datang
kepada Tuhan. Kisah para gembala memanggil kita sebagai jemaatnya untuk kembali
memiliki iman yang aktif yaitu iman yang mau bersusah payah demi berjumpa
dengan Kristus.
2. Mereka Saling Mendorong dan Menguatkan untuk
Bertemu Kristus
Pada ayat 15 dituliskan
bahwa setelah malaikat pergi meninggalkan mereka, para gembala berkata seorang
kepada yang lain:
“Marilah kita pergi ke
Betlehem, untuk melihat apa yang telah terjadi di sana.”
Frasa “marilah kita pergi”
menunjukkan adanya ajakan satu dengan yang lain. Mereka saling mendorong dan
saling menguatkan untuk melangkah ke Betlehem. Dalam perjalanan yang jauh dan
berisiko itu, mereka berusaha saling menjaga dan saling melindungi dengan satu
tujuan yang sama: supaya mereka dapat bertemu dengan Yesus.
Di sinilah terlihat keunikan
perjalanan iman para gembala. Iman mereka adalah iman yang komunal. Tidak ada sikap egoistis
atau keinginan untuk menonjolkan diri. Mereka tidak berjalan sendiri-sendiri,
tetapi saling mendukung agar bersama-sama berjumpa dengan Sang Juruselamat. Matthew
Henry menegaskan bahwa para gembala bukan sekadar saling mendorong secara
verbal, melainkan sungguh-sungguh mempercayai berita yang disampaikan malaikat.
Firman yang diwartakan melalui perantaraan malaikat itu mereka yakini sebagai
kebenaran yang teguh, sah, dan tidak perlu diragukan atau diperdebatkan lagi (YLSA, n.d. Lukas 2:17). Keyakinan ini mendorong mereka untuk bertindak, bukan
menunda atau mempertanyakan, melainkan melangkah dalam ketaatan.
Dalam terang iman komunal,
kepercayaan para gembala ini tidak berdiri secara individual, tetapi terbangun
dalam persekutuan. Mereka saling meneguhkan iman satu sama lain, sehingga
keyakinan akan firman Allah menjadi kekuatan bersama yang menggerakkan mereka
untuk pergi dan berjumpa dengan Yesus. Iman yang dihidupi secara bersama itulah
yang memampukan mereka melampaui rasa takut, keterbatasan, dan status sosial
mereka, dan dengan satu hati melangkah menuju Sang Juruselamat.
Allah merancang iman bukan
sebagai perjalanan yang individual, melainkan sebagai perjalanan dalam persekutuan.
Perjumpaan dengan Kristus sering kali dipelihara dan diteguhkan dalam
kebersamaan umat Allah.
Apa yang dilakukan para
gembala menjadi pelajaran penting bagi kita orang percaya masa kini. Kita
dipanggil untuk saling mengajak, saling menguatkan, dan melangkah bersama
menuju Kristus. Pertumbuhan iman tidak hanya terjadi dalam kesalehan pribadi,
tetapi juga dalam persekutuan yang saling menopang dan mendorong untuk datang
kepada Tuhan.
3. Ketaatan dengan Respons yang Cepat
Ayat 16 mencatat bahwa para
gembala “cepat-cepat berangkat.”
Analisis leksikal menujukkan bahwa kata cepat-cepat diterjemahkan dari kata “speudo”
yaitu sebuah kata kerja yang berarti bersegera, mempercepat, mendorong denga
sungguh-sungguh, memiliki kerinduang atau keinginan yang kuat (BibleWorks 10, n.d.
sv"speudo"). Mattew Hendry mengatakan bahwa mereka tidak membuang-buang
waktu (YLSA, n.d. Lukas 2:16). Mereka menunjukkan sikap tidak menunda, tidak ada
pertimbangan untung-rugi, dan tidak ada pencarian kenyamanan terlebih dahulu.
Mereka mendahulukan panggilan Allah di atas rutinitas dan kepentingan pribadi.
Jika memperhatikan kembali
kondisi saat itu, para gembala menerima pesan dari malaikat pada malam hari.
Mereka sebenarnya bisa saja menunda keberangkatan hingga pagi hari dengan
alasan kondisi geografis, ancaman angin malam, atau bahaya perjalanan. Namun
yang menarik adalah mereka tidak menjadikan semua itu sebagai alasan.
Sebaliknya, mereka justru bergegas.
Keputusan mereka sangat
tepat. Melalui iman yang merespons firman dengan segera, usaha mereka tidak
sia-sia. Mereka berjumpa dengan Maria, Yusuf, dan Bayi itu yang sedang
berbaring di dalam palungan, persis seperti yang
diberitakan oleh malaikat.
Ketaatan yang sejati selalu
berkaitan dengan respons yang segera. Iman yang hidup tidak menunggu situasi
ideal, tetapi bertindak ketika firman Allah didengar.
Pelajaran penting dari para
gembala adalah panggilan untuk langsung merespons firman Tuhan. Jangan
menunda ketaatan. Jangan menunggu waktu yang terasa nyaman atau ideal. Para
gembala mengajarkan bahwa ketaatan sejati lahir dari iman yang percaya, berani
melangkah, dan segera bertindak ketika Allah berbicara.
Marilah kita memiliki usaha
sungguh-sungguh mencari Tuhan, saling menguatkan dan saling mendorong untuk
datang kepada Tuhan dan meresopon firman Tuhan dengan cepat. Jangan pernah
menunda untuk mentaati kebenaran Firman Tuhan.
TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA
SHALOM
Referensi:
BibleWorks 10
(Version 10.0.4.114). (n.d.). BibleWorks,LCC.
Douglas,
J. . (2002). Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I A-L. Yayasan
Komunikasi Bina Kasih.
Shepherds’
Field Bethlehem. (n.d.). Holiy Land
Site.
https://www.holylandsite.com/shepherds-field-bethlehem#:~:text=2.,peristiwa ini
terjadi di sini.
YLSA.
(n.d.). Alkitab Sabda : Tafsiran Alkitab Mattew Hendry (1662-1714).
https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=43&chapter=4&verse=4
Komentar
Posting Komentar