Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th
Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho:
Pelajaran Iman yang Mengubahkan
Eksposisi Matius 20:29–34
Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M. Th
Pendahuluan
Perikop ini menggambarkan momen ketika Yesus bersama
murid-murid-Nya keluar dari Yerikho. Yerikho adalah sebuah kota penting dalam
sejarah Israel yang sering menjadi tempat persinggahan para peziarah menuju
Yerusalem, suatu tempat terletak di wilayah selatan bukit lam. Tempat tinggal
Zakheus yang bertobat dan bartimeus yang disembuhkan oleh Yesus (JD, 2002, p. 569).
Pada waktu itu, “orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus.”
Alkitab dan pengalaman pelayanan menunjukkan bahwa motif manusia mengikuti
Kristus sangat beragam:
·
Ada
yang terkesima oleh pengajaran-Nya (band. Mat 7:28)
·
Ada
yang mengejar mujizat dan kesembuhan (Luk 5:15)
·
Ada
yang mengikuti demi kebutuhan jasmani (misalnya makanan) (Band. Yoh 6:26)
·
Ada
yang telah disembuhkan dan ingin berterima kasih (Mat 20:34)
·
Ada
juga yang mengikuti tanpa benar-benar mengenal Dia (ikut-ikutan)
Kembali ke teks bacaan diatas, kita melihat di antara kerumunan
itu, terdapat dua orang buta yang duduk di pinggir jalan. Mereka adalah
pengemis, salah satunya adalah Bartimeus anak Timeus (band.Mar 10:46; Luk
18:35). Mendengar bahwa Yesus lewat,
mereka berseru meminta belas kasihan. Yesus kemudian menyembuhkan mereka, dan
keduanya akhirnya mengikuti Dia.
Dari
perikop ini, kita belajar empat prinsip iman yang penting.
1. Iman
Dimulai dari “Mendengar” (akousantes — ἀκούσαντες)
Alkitab mencatat bahwa dua orang buta itu mendengar bahwa Yesus
lewat. Kata Yunani akousantes berasal dari akar kata akouō (ἀκούω) dibaca akoo’o,
secara literal berarti menengar, mnegerti (Newman JR, 2023, p. 5), secara
leksikal kata ini dapat berarti mendengar dengan memahami atau mendapat kabar
tentang sesuatu (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d.
Biblework 10 "ἀκούω") sehingga kata
ini memiliki arti mendengar sampai memahami--sebuah pendengaran yang disertai
kesadaran, perhatian, dan kesungguhan. Mendengar seperti ini tidak bisa jika
dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain seperti memasak, menonton, sambil
lihat HP, membaca, atau kegiatan lainnya. Akoo’o hanya bisa tercapai jika
dilakukan dengan konsentrasi, sungguh-sungguh, memberikan perhatian penuh.
Dua
makna penting dari tindakan mendengar ini:
(1)
Mereka
berusaha mendengar dengan saksama.
Dalam keramaian besar, awalnya mereka hanya mendengar samar-samar.
Tetapi mereka berfokus, berkonsentrasi, dan menyimak percakapan orang-orang
sampai mereka yakin bahwa Yesus benar-benar sedang lewat.
(2)
Mereka sudah lama mendengar tentang Yesus sebelumnya.
Seruan mereka menunjukkan kedalaman pengenalan mereka: Mereka
memanggil Yesus sebagai “Tuhan (Kurios)”, yaitu Penguasa dan Pemilik hidup (Newman JR, 2023, p. 97). Mattew Hendry mengatakan bahwa mereka mengakui Yesus Kristus
adalah Tuha, dan bahwa sudah pasti Roh Kuduslah yang memebuat mereka menyebut
Yesus Kristus Tuhan (Hendry, 2007) (Hendry, Tafsiran SABDA Mat 20:29-34). Mereka menyebut-Nya “Anak
Daud”, sebuah pengakuan mesianis berdasarkan nubuat para nabi. Mereka mengakui
bahwa Yesuslah Raja yang lahir dari keturunan Daud, Dialah yang diurapi (Mesias)
dalam bahasa Yunani Christos (JD, 2002, p. 590). Mereka bukan hanya tahu tentang Yesus; mereka mengenal-Nya. Mereka
buta secara fisik, tetapi mereka memiliki pandangan spiritual mengenal Yesus (Bergant & Karris, 2002, p. 64).
Implikasi
teologis pendengaran dan pengenalan mereka akan Yesus ialah:
-
Mendengar
firman, bukan sekadar informasi, melainkan mendengar yang melahirkan iman yang
sejati.
Seperti
Paulus berkata:
“Iman
timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)
Iman
tidak lahir dari: berita politik, isu viral, perdebatan kosong, atau suara
masyarakat.
Iman
hanya bertumbuh dari mendengar firman.
Aplikasi
Kita
diajak belajar akouō (akoo’o), mendengar Firman dengan saksama,
sungguh-sungguh, dan penuh konsentrasi agar kita semakin mengenal Tuhan.
2.
Iman yang mendorong untuk Berseru kepada Yesus
Ketika
Yesus lewat, dua orang buta itu berseru:
“Tuhan,
Anak Daud, kasihanilah kami!” (ayat 30)
Kata “berseru” diterjemahkan dari kata Yunani ekrazan (ἔκραξαν),
dari akar kata krazō (berteriak, berseru), dalam BDAG lexikon
kata ini memiliki dua pengertian yaitu mengeluarkan teriakan yang kuat,
berteriak keras, menjerit, meraung dan mengkomunikasikan sesuatu dengan suara
keras; memanggil, berseru, berteriak (Bauer & Danker, n.d. BibleWorks
10 “Krazo”)
Kata ini juga dapat dimaknai berteriak dengan suara keras sambil menangis. Ini
adalah seruan yang penuh emosi dan keputusasaan—suatu doa dari hati yang
hancur.
Mengapa
mereka berseru dengan keras?
Dalam konteks sosial Yahudi, orang buta sering dianggap rendah dan
bahkan dikaitkan dengan kutuk atau dosa (band. Yoh. 9:1–2). Mereka mengalami: tekanan
psikologis, penolakan sosial, rasa tidak dianggap, stigma masyarakat.
Mereka berseru sambil menangis dengan keras kepada Yesus karena
mereka percaya hanya Yesus yang menerima mereka apa adanya dan sanggup melepaskan
mereka tekanan dan kesulitan yang mereka alami.
Aplikasi
Ketika beban hidup terlalu berat, kita dipanggil bukan untuk diam,
tetapi untuk datang dan berseru kepada Yesus.
Yesus
berjanji:
“Marilah kepada-Ku… Aku akan memberi kelegaan
kepadamu.” (Matius 11:28)
Berserulah.
Allah tidak alergi terhadap air mata. Dia dekat dengan orang yang remuk hati.
3.
Iman yang Sejati Tidak Mudah Menyerah
Ketika mereka berseru, orang banyak menegur dan menyuruh mereka
diam. Namun respons mereka justru:
“Mereka
semakin keras berseru.” Tuhan, Anak Daud, Kasihanilah Kami (ayat 31)
Kata
berseru lebih keras diterjemahkan dari kata (meizon ekrazan —
berteriak lebih keras/suara nyaring atau makin keras berseru) (Newman JR, 2023, p. 104).
Ini
menunjukkan iman yang pantang menyerah. Mereka tidak mau dihambat oleh: tekanan
sosial, suara-suara negatif, intimidasi massa, bahkan ucapan murid-murid.
Kita
pun menghadapi dua jenis tantangan:
(1)
Tantangan dari dalam:
malas,
jenuh, bosan, lelah, kecewa, terluka, takut.
(2)
Tantangan
dari luar: kritik orang lain, tekanan lingkungan, larangan, cibiran.
Matthew Henry menegaskan bahwa dalam perjalanan mengikut Kristus
melalui doa, kita perlu siap menghadapi berbagai hambatan serta teguran—baik
yang muncul dari dalam diri maupun dari luar—yang kadang mengusik kedamaian
kita. Teguran tersebut diizinkan Tuhan agar iman, keteguhan, kesabaran, dan
ketekunan kita benar-benar teruji. Kedua orang buta dalam kisah itu menunjukkan
teladan: mereka tidak menyerah walaupun ditegur, dan tidak membiarkan siapa pun
menghalangi mereka. Dari peristiwa ini, kita diajar untuk berdoa tanpa lelah,
dengan permohonan yang terus-menerus. Tetaplah berdoa dengan hati yang teguh
dan jangan menyerah di tengah tantangan (Hendry, 2007).
Iman
yang sejati tidak berhenti hanya karena ada hambatan.
Iman
sejati meninggikan suara ketika dunia mencoba membungkamnya. Semakin keras
berseru kepada Tuhan yang mengerti beban yang kita alami.
Aplikasi
Mari
memiliki iman yang teguh—iman yang berjuang, bertahan, dan tidak menyerah
hingga Tuhan menjawab.
4.
Iman Menghasilkan Respons Yesus
Karena
iman mereka, Yesus melakukan empat tindakan ilahi yang sangat berarti:
(1)
Yesus berhenti — Ia memberi perhatian. (ayat 32)
Meski
ribuan orang berbondong, jeritan iman membuat-Nya berhenti.
(2)
Yesus memanggil mereka.(ayat 32)
Ia
mengundang mereka mendekat, menunjukkan penerimaan.
(3)
Yesus bertanya: (ayat 32)
“Apa yang kamu ingin supaya Aku perbuat
bagimu?”
Allah
menghargai kejelasan permohonan anak-anak-Nya.
(4)
Yesus menjamah dan menyembuhkan mereka.(ayat
33)
Sentuhan
Yesus memulihkan penglihatan mereka secara total.
Dari sini kita belajar bahwa Iman yang lahir dari pengenelan akan
Tuhan, iman yang mendorong berseru kepada Tuhan, dan iman yang tidak menyerah,
mendatangkan respon dari Tuhan. Ia memberi perhatian, ia mengundang kita
mendekat dan menerima kita apa adanya, Ia mau mendengar permohonan kita dan Ia
memulihkan kita melalui sentuhannya yang lembut dan penuh kasih.
5. Iman
Selalu Menghasilkan Ketaatan untuk Mengikuti Yesus
Setelah
disembuhkan, kedua orang buta itu mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus.
Kata “mengikuti” berasal dari kata Yunani akoloutheō (ἀκολουθέω)
artinya mengikuti (Newman JR, 2023, p. 5) — ata in berarti mengiringi atau menyertai. Setiap orang yang
percaya mengikuti sebagai murid, berjalan bersama seorang guru, setia
mengiringi langkah-Nya.
Perhatikan:
Mereka tidak hanya menerima mujizat lalu pergi. Mereka menjadikan
Yesus pusat hidup mereka. Mujizat sejati bukan hanya kesembuhan, tetapi
kehidupan yang berubah dan mengikuti Tuhan seumur hidup.
MH menekankan bahwa kedua orang itu mengikuti Yesus sebagai
murid-Nya—mereka belajar dari-Nya, menyaksikan tentang diri-Nya, kuasa-Nya, dan
kebaikan-Nya. Tanda paling kuat dari pencerahan rohani dalam diri seseorang
adalah keterikatan yang tidak pernah terputus kepada Yesus Kristus sebagai
Tuhan dan Pemimpin hidupnya (Hendry, 2007).
Aplikasi
Setiap jawaban doa, setiap pertolongan Tuhan, setiap mujizat—harus
menuntun kita kepada komitmen mengikut Yesus dengan setia.
Kesimpulan
Kisah
dua orang buta tersebut memberikan pelajaran spiritual yang mendalam bagi
kehidupan orang percaya.
Pertama, iman sejati lahir dari pendengaran yang saksama akan
firman Tuhan (akoō), yaitu mendengar sampai memahami dan
menginternalisasi kebenaran ilahi. Pendengaran tingkat inilah yang memampukan
iman kita bertumbuh dan berakar kuat di dalam hati kita sebagai orang percaya.
Kedua, iman yang benar mendorong kita untuk berseru kepada Tuhan.
Seruan tersebut bukan sekadar luapan emosional, tetapi wujud keyakinan bahwa
hanya Tuhan yang sanggup menyatakan pertolongan dan keselamatan bagi kita.
Karena itu, apa pun tantangan yang dihadapi, kita sebagai orang percaya tidak
boleh menyerah, melainkan terus memiliki iman yang berjuang—iman yang tidak
mudah goyah oleh keadaan.
Ketiga, iman yang tekun dan pantang menyerah akan menarik respons
ilahi. Ketika Tuhan menjawab doa, menyatakan mujizat, atau mencurahkan
berkat-Nya, hal itu bukan hanya pemenuhan kebutuhankita, tetapi tanda
penyertaan dan kemurahan Allah dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya.
Keempat, respons Tuhan atas iman kita seharusnya menuntun kepada
keputusan untuk mengikut Dia dengan setia. Mengikuti Tuhan bukan hanya saat
berkat dan pertolongan dinyatakan, tetapi juga dalam proses perjalanan hidup
sehari-hari. Kesetiaan untuk mengikut Kristus menuntut ketaatan, penyangkalan
diri, dan komitmen untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian, pengalaman
akan mujizat dan jawaban doa bukanlah tujuan akhir, melainkan dorongan untuk
semakin menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan dan terus berjalan
bersama-Nya hingga akhir.
Referensi:
Bauer, & Danker. (n.d.). Greek-English Lexicon of the NT (BDAG).
BibleWorks,LCC.
Bergant, D., &
Karris, R. J. (Eds.). (2002). Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru.
Kanisius.
Friberg, Timothy;
Friberg, Barbara; Miller, N. F. (n.d.). Analytical Greek Lexicon.
Hendry, M. (2007). Tafsiran
Mattew Hendry : Matius. Momentum.
JD, D. (2002). Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
Newman JR, B. M.
(2023). Kamus Yunani Indonesia Untuk Perjanjian Baru. BPK Gunung Mulia.
Komentar
Posting Komentar