Prinsip dalam Memberi (Bagian 1)
Makna Frasa “Menabur sedikit menuai sedikit- Menabur banyak menuai
banyak”
Bagian 1 : Prinsip dalam Memberi
Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th
Konteks ayat ini berbicara tentang pemberian yang dilakukan oleh
jemaat Korintus, atau orang-orang Akhaya, dalam pengumpulan dana untuk menolong
jemaat di Yerusalem. Jemaat Yerusalem saat itu sedang mengalami kesusahan, dan
Paulus mengorganisir dukungan dari gereja-gereja lain sebagai wujud solidaritas
tubuh Kristus.
Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk terlibat dalam pekerjaan
Tuhan ini, sebagai bukti kemurahan hati mereka dalam menolong jemaat Yerusalem
yang adalah sesama anggota tubuh Kristus. Penekanan Paulus sangat jelas:
pemberian itu harus dilakukan dengan sukacita, bukan dengan paksaan.
Salah satu bagian yang sering disalahpahami atau ditafsirkan secara
keliru adalah ayat 6. Ayat ini kerap digunakan untuk mendorong jemaat
memberikan persembahan uang dalam jumlah besar dengan janji bahwa mereka pasti
akan menuai hasil yang besar pula. Pemahaman ini tidak sepenuhnya keliru,
tetapi kurang tepat bila dilepaskan dari konteks dan makna kata-kata aslinya.
Oleh karena itu, ayat ini perlu dipelajari dan dianalisis dengan benar agar
tidak keliru dalam pengajaran kepada jemaat, sehingga maknanya disampaikan
secara utuh dan bertanggung jawab.
Ayat ini dibagi dalam dua pernyataan utama:
·
“Siapa
yang menabur sedikit, akan menuai sedikit.”
·
“Siapa
yang menabur banyak, akan menuai banyak.”
Pertanyaannya adalah: apakah kata “sedikit” dan “banyak” di sini
berbicara semata-mata tentang jumlah? Ataukah menunjuk pada aspek lain,
terutama sikap dan motivasi hati?
Makna
Kata “Menabur” (σπείρω – speirō)
Kata menabur diterjemahkan dari kata Yunani σπείρω (speirō) yang
berarti menabur, menyebarkan, menyemai, atau menghamburkan. Secara harfiah,
kata ini digunakan dalam konteks agraris, yaitu menabur benih di ladang. Namun
secara kiasan (rohani), kata ini juga digunakan untuk menabur firman Tuhan,
menabur perbuatan baik atau jahat, serta menabur dalam pemberian—baik kasih,
materi, maupun pelayanan.
Dalam
Alkitab, kata ini sering muncul dalam bentuk aktif maupun pasif, dan selalu
menekankan proses, waktu, dan ketekunan, bukan hasil yang instan. Makna kata
speirō menegaskan bahwa kehidupan iman bersifat proses, bukan instan: ketaatan
mendahului berkat, dan kesetiaan mendahului hasil.
Makna
“Sedikit” (φειδομένως – pheidomenōs)
Kata φειδομένως (pheidomenōs) adalah kata keterangan yang
menjelaskan bagaimana tindakan menabur dilakukan. Artinya: dengan hemat, dengan
terbatas, dengan menahan diri; bahkan dalam pengertian negatif dapat berarti
pelit atau kikir. Kata ini berasal dari kata kerja φείδομαι (pheidomai) yang
berarti menahan diri, menghemat, atau tidak memberi secara bebas.
Dalam Perjanjian Baru, kata ini dipakai untuk menggambarkan
tindakan memberi atau melakukan sesuatu secara minimal, tidak berlimpah, atau
setengah hati. Secara rohani, kata ini menekankan sikap hati yang menahan diri
atau kikir dalam memberi, bukan sekadar jumlah yang kecil.
Makna “Menuai” (θερίζω – therizō)
Kata θερίζω (therizō) berarti menuai, memanen, atau mengumpulkan
hasil panen. Kata ini berasal dari θέρος (theros) yang berarti musim panen atau
hasil tanaman. Istilah ini menunjuk pada tahap akhir dari proses, setelah
penaburan dan pertumbuhan.
Dalam Perjanjian Baru, kata ini memiliki beberapa nuansa makna: Secara
harfiah: mengumpulkan hasil tanaman yang telah matang. Secara kiasan rohani:
hasil dari perbuatan manusia (baik atau jahat). Upah rohani dari kesetiaan dan
ketekunan. Penghakiman atau penggenapan janji Allah.
Penggunaan kata ini menegaskan kepastian menuai, meskipun
seringkali harus menunggu waktu. Sekali lagi, prinsip ini menolak pemahaman
yang instan dan mekanis.
Pengulangan kata φειδομένως dalam hubungan antara menabur dan
menuai menegaskan bahwa hasil yang diterima sejalan dengan sikap hati dalam
memberi.
Makna
“Menabur Dengan Berkat” (ἐπ’ εὐλογίαις – ep’ eulogiais)
Pada bagian kedua, Paulus menekankan cara menabur dengan frasa ἐπ’
εὐλογίαις. Kata ἐπ’ adalah preposisi yang menegaskan dasar atau cara tindakan
tersebut dilakukan. Kata εὐλογίαις (eulogiais) berasal dari akar yang sama
dengan εὐλογέω (eulogeō), dari eu (baik) dan logos (kata atau ucapan).
Secara harfiah, eulogia berarti “perkataan yang baik”, yang
kemudian berkembang maknanya menjadi berkat, ucapan berkat, doa berkat,
pemberian, atau anugerah yang membawa kebaikan. Dalam bahasa Inggris
diterjemahkan upon blessing, yang menekankan dasar, motivasi, dan sikap hati
dalam memberi.
Dalam Perjanjian Baru, eulogia memiliki beberapa nuansa makna: Secara
liturgis-teologis: berkat dari Allah atau ucapan berkat kepada Allah. Secara
praktis: pemberian yang dimaksudkan sebagai berkat bagi orang lain. Secara
etis: perkataan baik yang membangun, kebalikan dari kata-kata yang merusak.
Dalam konteks 2 Korintus 9, eulogia bukan sekadar kata-kata rohani,
melainkan pemberian nyata yang lahir dari hati yang telah diberkati dan menjadi
saluran berkat bagi orang lain. Ungkapan also will reap menegaskan kepastian
prinsip rohani ini, sedangkan blessing upon blessing berbicara tentang
kelimpahan makna, bukan semata-mata jumlah.
Makna Teologis-Praktis:
Dengan demikian, ayat ini memiliki makna teologis dan praktis
sebagai berikut:
1. Siapa yang menabur sedikit, karena menahan diri atau pada
dasarnya kikir (tidak rela melepaskan), akan menuai hasil yang sedikit dalam
pengalaman hidup rohaninya. Ia tidak akan pernah merasakan berkat yang
berkelimpahan. Yang merasa sayang dalam menabur (perasaan tidak rela), tidak
akan pernah merasakan panen yang baik (Mattew Hendry, Tafsiran 2 Korintus 9:6).
2. Siapa yang memberi dengan berkelimpahan, karena hatinya telah
merasakan dan menikmati berkat Tuhan, tidak menahan diri, dan memberi dengan
lepas serta sukacita, akan menuai berkat yang berlimpah dalam hidupnya. Mattew
Hendry menegaskan sebaliknya bahwa orang yang menginginkan panen yang baik
pasti tidak akan sayang menabur bnih, sebab apa yang dihasilkan biasaya sppadan
dengan apa yang ditabur.
Kesimpulan
Secara teologis, 2 Korintus 9:6 menegaskan bahwa prinsip menabur
dan menuai bukanlah rumus mekanis untuk memperkaya diri, melainkan hukum rohani
yang berakar pada sikap hati di hadapan Allah. Allah tidak sedang menghitung
jumlah persembahan, tetapi menilai ketulusan, kemurahan, dan sukacita dalam
memberi. Berkat yang dijanjikan Allah tidak selalu berbentuk materi, tetapi
mencakup kepenuhan hidup, pertumbuhan iman, dan sukacita rohani.
Secara praktis, ayat ini memanggil orang percaya untuk hidup
sebagai penatalayan yang murah hati, memberi bukan karena tekanan atau janji
keuntungan, melainkan karena telah terlebih dahulu mengalami kasih karunia
Allah. Pemberian yang lahir dari hati yang diberkati akan menjadi sarana Allah
untuk memberkati sesama dan membentuk karakter Kristus dalam kehidupan orang
percaya.
Komentar
Posting Komentar