Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 4: Bertumbuh karena Pujian Kepada Tuhan

 

Perjalanan Iman Para Gembala

Bagian 4: Bertumbuh karena Pujian Kepada Tuhan

Lukas 2: 13-14

Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

 

Pada bagian keempat ini akan diuraikan bagaimana iman para gembala terus mengalami pertumbuhan, sehingga mereka semakin rindu untuk bertemu dengan Yesus Sang Juruselamat. Penekanan khusus diberikan pada Lukas 2:13–14 sebagai bagian penting dalam dinamika pertumbuhan iman mereka.

1. Iman Para Gembala Diteguhkan oleh Pujian Sorgawi

Para gembala tidak hanya mendengar pemberitaan dari seorang malaikat, tetapi pemberitaan tersebut juga diteguhkan oleh pujian sorgawi, yaitu pujian dari bala tentara surga. Ayat 13 menjelaskan bahwa setelah berita tentang kelahiran Yesus disampaikan, tiba-tiba muncullah bala tentara surga yang memuji Allah.

Ungkapan “bala tentara surga” diterjemahkan dari frasa Yunani πλῆθος στρατιᾶς οὐρανίου. Kata πλῆθος (dari pleto) berarti sekumpulan besar orang atau sesuatu; kerumunan; jumlah yang sangat banyak; himpunan atau kumpulan. Kata ini biasa digunakan untuk menyatakan rombongan atau kerumunan orang dalam jumlah besar. Kata ini diikuti oleh στρατιᾶς, yang berarti pasukan atau tentara; secara kiasan menunjuk pada bala tentara surgawi, yaitu kumpulan malaikat, dan bahkan dapat merujuk pada bala tentara langit seperti benda-benda penerang di cakrawala. Makna ini ditegaskan oleh kata οὐρανίου, yang berarti “surga”, dan menunjukkan asal atau tempat dari mana bala tentara itu datang.

Dengan demikian, ungkapan πλῆθος στρατιᾶς οὐρανίου menunjukkan hadirnya suatu himpunan besar yang terorganisasi, yakni bala tentara surgawi yang dipahami sebagai kumpulan malaikat yang berada di bawah otoritas Allah.

Kumpulan besar malaikat ini memuji Allah. Kata “memuji” diterjemahkan dari kata αἰνούντων, yang berarti memuji atau mengungkapkan pujian, khususnya dalam konteks penyembahan kepada Allah. Kata ini digunakan untuk meninggikan nama Allah melalui perkataan, doa, atau ungkapan penyembahan.

Kelahiran Yesus Kristus yang diberitakan kepada para gembala disertai dengan penyembahan kepada Allah, menunjukkan bahwa seluruh peristiwa ini dikerjakan oleh Allah dan bermuara pada kemuliaan Allah semata. Dengan demikian, kemunculan bala tentara surga yang memuji Allah menegaskan keagungan dan signifikansi kelahiran Yesus, sebab peristiwa tersebut direspons oleh seluruh tatanan surgawi sebagai momen ilahi yang layak disambut dengan pujian dan kemuliaan.

Melalui nyanyian surgawi itu, para gembala tidak hanya menerima informasi tentang kelahiran Kristus, tetapi juga memperoleh pemahaman iman yang lebih dalam mengenai makna inkarnasi. Mereka menyadari bahwa kelahiran Sang Juruselamat membawa sukacita besar bagi seluruh bangsa, termasuk bagi mereka yang sederhana dan terpinggirkan, serta bahwa seluruh peristiwa ini bermuara pada kemuliaan Allah. Pujian kepada Allah membuka mata iman para gembala, meneguhkan keyakinan mereka akan karya keselamatan Allah, dan mendorong mereka untuk merespons dengan ketaatan serta langkah iman yang nyata.

 

2. Pujian Mengubah Ketakutan Menjadi Sukacita

Ketika para gembala melihat seorang malaikat datang dan cahaya kemuliaan Allah menerangi mereka, mereka diliputi oleh ketakutan yang sangat besar. Ayat 9 menegaskan bahwa mereka “takut dengan rasa takut yang sangat besar” (ἐφοβήθησαν φόβον μέγαν, Luk. 2:9 NA28). Secara harfiah ungkapan ini berarti “mereka takut dengan ketakutan yang besar” atau “mereka sangat ketakutan”.

Ketakutan ini bukan sekadar rasa ngeri biasa, melainkan respons manusia di hadapan manifestasi kemuliaan ilahi. Ini adalah rasa gentar yang muncul ketika manusia berdosa berhadapan dengan kehadiran Allah yang kudus—sebuah pengalaman yang dalam banyak peristiwa Alkitab justru menjadi awal dari perjumpaan iman, sebelum akhirnya diubah menjadi sukacita oleh Injil.

Ketakutan besar yang menguasai hati para gembala mulai mengalami perubahan ketika malaikat berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” Ketakutan itu semakin lenyap ketika para gembala menyaksikan pujian yang dinyanyikan oleh bala tentara surga: (ayat 14)

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi

dan damai sejahtera di bumi

di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

 

Melalui pujian ini, ketakutan para gembala diubahkan menjadi damai dan sukacita. Mereka memahami bahwa kelahiran Kristus, Tuhan, di kota Daud mendatangkan damai sejahtera bagi orang-orang yang berkenan kepada Allah. Jika Allah memberitakan kesukaan besar ini kepada para gembala, maka mereka menyadari bahwa Allah juga berkenan kepada mereka. Dengan demikian, ketakutan mereka diubahkan menjadi damai sejahtera (eirēnē- Strong g1515), artinya damai ketenangan, ketenangan batin yang menandai pertumbuhan iman mereka dan kesiapan hati untuk menyambut Sang Juruselamat.

Kesimpulan

Melalui pujian sorgawi, iman para gembala diteguhkan dan semakin bertumbuh. Mereka tidak hanya mendengar kabar tentang kelahiran Yesus, tetapi mulai memahami makna ilahi dari peristiwa inkarnasi yang mengarah pada kemuliaan Allah dan keselamatan bagi manusia. Pujian bala tentara surga perlahan mengubah ketakutan mereka di hadapan kemuliaan Allah menjadi sukacita dan damai sejahtera, karena mereka menyadari bahwa kelahiran Kristus juga menyatakan perkenanan Allah bagi orang-orang sederhana seperti mereka. Dengan cara inilah pujian kepada Allah menjadi sarana pembentukan iman, yang membawa para gembala dari rasa gentar menuju keyakinan yang teguh dan ketaatan untuk melangkah berjumpa dengan Sang Juruselamat.

APLIKASI

Bagi kita orang percaya masa kini, setiap kali kita hadir dalam ibadah, marilah kita memuji Tuhan dengan segenap hati. Lirik-lirik pujian yang kita nyanyikan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pernyataan iman, pengagungan, dan pemujaan kepada Allah. Di dalam pujian juga terkandung doa serta harapan kita kepada Tuhan; karena itu, nyatakanlah semuanya dengan sungguh-sungguh. Pujian memiliki kuasa ilahi: mengubah ketakutan menjadi sukacita, kekhawatiran menjadi pengharapan, dan kecemasan menjadi semangat yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus