Perjalanan Iman Para Gembala (Bagian 2)
Perjalanan Iman Para Gembala
Lukas 2:8–20
Bagian 2: Berita Sukacita Bagi kaum
lemah
Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th
Berita kelahiran Yesus pertama-tama disampaikan
kepada para gembala—kelompok yang dalam struktur sosial Yahudi dipandang lemah,
miskin, sederhana, serta kurang dihargai secara religius maupun sosial. Mereka
bukan kaum terdidik, bukan pula golongan terhormat yang aktif dalam pelayanan
Bait Suci. Pekerjaan mereka yang tidak tersohor membuat mereka tersisihkan
dalam tatanan masyarakat (Bergant & Karris, 2010, p. 120).
Namun justru kepada mereka Allah berkenan
menyatakan kabar keselamatan. Setelah malaikat Gabriel memberitakan kelahiran
Yesus kepada Maria dan Yusuf, para gembalalah yang menjadi penerima berikutnya
dari berita yang luar biasa ini. Mereka dipilih Allah untuk menerima berita
tentang “kesukaan besar” bagi seluruh bangsa. Lebih dari itu, mereka menjadi
saksi awal kelahiran Yesus dan dipakai sebagai alat Allah untuk menyebarkan
kabar keselamatan di tengah umat Israel.
Frasa “kesukaan besar” diterjemahkan dari
ungkapan Yunani χαρὰν μεγάλην (Luk. 2:10 NA28). Kata χαρὰν
(charan) merupakan kata benda akusatif feminin tunggal dari kata dasar χαρά,
yang berarti kegembiraan, kesenangan, atau sukacita yang mendalam. Friberg
Lexicon menjelaskan bahwa kata ini secara harfiah menunjuk pada sukacita
sebagai perasaan kebahagiaan batin yang diekspresikan dalam kegembiraan dan
rasa senang (Mat. 2:10). Secara metonimia, kata ini juga menunjuk pada pribadi
atau peristiwa yang menjadi penyebab atau objek sukacita (Luk. 2:10; Flp. 4:1),
serta keadaan kebahagiaan atau keberbahagiaan (Mat. 25:21; Ibr. 12:2) (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d. sv
“χαρά”). Louw-Nida
Lexicon mendefinisikan χαρά sebagai suatu keadaan sukacita dan
kegembiraan yang mendalam (Louw-Nida, n.d. sv "“χαρά”).
Kata μεγάλην (Luk. 2:10 NA28) merupakan
kata sifat akusatif feminin tunggal dari μέγας, yang berarti besar,
agung, luar biasa, atau mengejutkan (Newman, n.d. UBS Lexicon). Dengan demikian, “kesukaan besar” dalam Lukas
2:10 tidak menunjuk pada emosi sesaat, melainkan pada sukacita eskatologis dan
soteriologis yang bersumber dari tindakan Allah yang menentukan dalam sejarah
keselamatan. Sukacita ini berasal dari Allah, berfokus pada karya-Nya, dan
berdampak transformatif bagi semua yang menerima Injil.
Inti dari berita tentang kesukaan besar ini
ditegaskan pada ayat berikutnya: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (ay. 11). Ungkapan “hari ini telah lahir”
menekankan aktualitas peristiwa keselamatan: pada saat yang sama ketika berita
sukacita disampaikan, Sang Juruselamat telah lahir. Pernyataan ini menjadi
fondasi kristologis yang penting dalam iman Kristen dan perlu diuraikan secara
teologis.
a. Yesus adalah
Juruselamat
Kepada para gembala—orang-orang kecil, hina,
dan tersisih—Allah memberitakan bahwa yang lahir pada hari itu adalah
“Juruselamat”. Mereka yang diliputi ketakutan ketika menyaksikan kemuliaan
Tuhan, serta sadar akan keberdosaan mereka, menerima kabar yang menjadi jawaban
atas kebutuhan terdalam manusia: Yesus, Sang Juruselamat, telah lahir. Hal ini
sejalan dengan pemberitaan malaikat kepada Yusuf bahwa Anak yang dikandung
Maria akan dinamai Yesus, sebab Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari
dosa (Mat 1:21). Nama Yesus berasal dari bahasa Ibrani Yeshua, yang berarti “Allah
menyelamatkan”.
Kata “Juruselamat” diterjemahkan dari kata
Yunani σωτὴρ (sōtēr) (Luk. 2:11 NA28). Friberg Lexicon
menjelaskan istilah ini sebagai pelaku keselamatan atau pembebasan:
Juruselamat, Penyelamat, Pembebas. Kata ini digunakan baik bagi Allah sebagai
sumber keselamatan (Tit. 1:3) maupun bagi Yesus Kristus sebagai utusan Allah
yang membawa pembebasan bagi umat manusia (Kis. 13:23) (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d.). BDAG Lexicon mendefinisikannya sebagai
seseorang yang menyelamatkan atau membebaskan; juruselamat, penyelamat,
pembebas, dan pemelihara (Bauer & Danker, n.d. sv " σωτὴρ").
Dengan demikian, penyebutan Yesus sebagai σωτὴρ
bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan pernyataan teologis bahwa karya
penyelamatan Allah digenapi secara nyata di dalam diri dan karya Yesus Kristus.
Keselamatan yang dinyatakan di dalam Dia sepenuhnya merupakan anugerah Allah,
bukan hasil usaha manusia.
b. Yesus adalah
Mesias
Berita malaikat kepada para gembala juga
menegaskan bahwa Yesus adalah Kristus atau Mesias. Istilah Mesias (Ibrani: māšîaḥ)
dan Kristus (Yunani: Christos) memiliki makna yang sama, yaitu “Yang
Diurapi” (JD, 2002, p. 63). Friberg Lexicon menjelaskan bahwa Christos
secara harfiah berarti seseorang yang telah diurapi dan ditetapkan untuk suatu
tugas khusus. Dalam Perjanjian Baru, istilah ini digunakan sebagai gelar bagi
Yesus yang menunjuk kepada-Nya sebagai Mesias yang diutus Allah (Yoh. 1:41;
Mat. 1:16), dan dalam konteks tertentu juga berfungsi sebagai nama diri (Rm.
6:4) (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d.). Tafsiran Alkitab Wycliffe menegaskan
bahwa Kristus adalah Mesias Israel, Pembebas yang dijanjikan (Pfeiffer & Harrison, 2020, p. 285).
Dengan demikian, kelahiran Yesus yang diberitakan
kepada para gembala merupakan penggenapan janji Allah: Ia adalah Mesias sejati,
Yang Diurapi Allah, yang datang untuk membebaskan dan menyelamatkan umat-Nya.
c. Yesus adalah
Tuhan
Penegasan teologis berikutnya dalam berita
malaikat adalah bahwa Yesus adalah Tuhan. Banyak orang meragukan atau menolak
pengakuan ini, namun teks Lukas menunjukkan bahwa berita tersebut berasal dari
malaikat, utusan Allah yang sama yang sebelumnya memberitakan kelahiran Yesus
kepada Maria dan Yusuf. Konsistensi berita ini menegaskan kebenaran dan
otoritas ilahinya.
Istilah “Tuhan” diterjemahkan dari kata Yunani κύριος,
yang secara etimologis berasal dari kata sifat yang berarti kuat atau berkuasa.
Dalam penggunaan umum, kata ini menunjuk kepada tuan, majikan, atau penguasa,
serta dapat digunakan sebagai sapaan hormat. Dalam konteks religius, κύριος
digunakan sebagai gelar bagi Allah dan juga bagi Yesus Kristus (Mat. 1:20; Yoh.
20:18). Istilah ini merupakan terjemahan Yunani dari bahasa Ibrani Adonai,
yang digunakan untuk menggantikan penyebutan Tetragramaton YHWH (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d.) (Thayer, 1888).
Dengan demikian, penyebutan Yesus sebagai κύριος
mengandung makna kristologis yang sangat kuat: Yesus diidentifikasikan dengan
Allah sendiri, yang memiliki otoritas ilahi dan layak menerima ketaatan serta
penyembahan.
d. Yesus lahir
di Kota Daud
Penekanan pada Kota Daud, yaitu Betlehem,
menegaskan penggenapan nubuat bahwa Allah akan membangkitkan keturunan Daud
yang kerajaannya akan kokoh (2 Sam. 7:12–13). Para nabi juga menyebut Mesias
sebagai tunas Daud (Yer. 23:5; Yes. 11:1). Kelahiran Yesus di Betlehem
menggenapi nubuat Mikha 5:2, yang menyatakan bahwa dari Betlehem akan bangkit
seorang pemimpin Israel yang asal-usul-Nya sejak purbakala.
Dengan demikian, penyebutan Kota Daud bukan
sekadar informasi geografis, melainkan penegasan teologis bahwa Yesus adalah
Mesias keturunan Daud, Raja yang dijanjikan, dan bahwa di dalam diri-Nya
kesetiaan Allah terhadap janji-Nya dinyatakan secara nyata.
Kesimpulan
Perjalanan iman para gembala menunjukkan bahwa
inisiatif keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah yang berkenan menyatakan
diri-Nya kepada kaum lemah dan tersisih. Berita tentang kelahiran Yesus sebagai
Juruselamat, Mesias, dan Tuhan menegaskan inti Injil: Allah hadir di dalam
sejarah manusia untuk menyelamatkan, membebaskan, dan memerintah dengan kasih
karunia. Sukacita besar yang diterima para gembala bersifat soteriologis dan
eskatologis, melampaui emosi sesaat dan membawa transformasi hidup.
Pelajaran
Penting bagi Penggembalaan Masa Kini
Pertama, penggembalaan Kristen harus
mencerminkan hati Allah yang berpihak kepada kaum lemah dan terpinggirkan.
Pelayanan pastoral tidak boleh terpusat hanya pada mereka yang kuat secara
sosial atau religius, tetapi justru menjangkau mereka yang sering diabaikan.
Kedua, penggembalaan masa kini dipanggil untuk
memberitakan Injil secara utuh: Yesus sebagai Juruselamat yang membebaskan dari
dosa, Mesias yang menggenapi janji Allah, dan Tuhan yang berotoritas atas hidup
manusia. Pemberitaan yang parsial akan mengaburkan kekayaan Injil.
Ketiga, seperti para gembala yang menjadi saksi
dan pemberita, setiap pelayan Tuhan dipanggil bukan hanya untuk menerima berita
keselamatan, tetapi juga untuk membagikannya dengan kesetiaan. Pengalaman
perjumpaan dengan Kristus seharusnya mendorong gereja untuk menjadi komunitas
yang bersaksi, menghadirkan sukacita besar bagi dunia.
Referensi:
Bauer, & Danker. (n.d.). Greek-English Lexicon of the
NT (BDAG). BibleWorks,LCC.
Bergant,
D., & Karris, R. J. (2010). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.
Kanisius.
Friberg,
Timothy; Friberg, Barbara; Miller, N. F. (n.d.). Analytical Greek Lexicon.
JD, D.
(2002). Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z. Yayasan Komunikasi
Bina Kasih.
Louw-Nida.
(n.d.). Greek-English Lexicon of the New Testament. BibleWorks,LCC.
Newman,
B. (n.d.). Greek-English Dictionary. BibleWorks,LCC.
Pfeiffer,
C. F., & Harrison, E. F. (2020). Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3
Perjanjian Baru. Gandum Mas.
Thayer,
J. H. (1888). Thayer’s Greek-English Lexicon of the New Testament.
Harper & Brothers.
Komentar
Posting Komentar