Perjalanan Iman Para Gembala (Bagian 1)
Perjalanan Iman Para Gembala
Lukas 2:8–20
Bagian Pertama
Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th
Para gembala adalah orang-orang sederhana, orang-orang
kecil, dan sering kali tidak terpandang dalam struktur sosial masyarakat. Pada
musim panas, mereka biasa pergi ke tempat yang cukup jauh dari rumah untuk
mencari padang rumput dan menggembalakan kawanan domba mereka. Pada masa itu,
mereka tidak tinggal di rumah; besar kemungkinan mereka bermalam di tenda-tenda
sederhana yang mereka dirikan sendiri, sekadar untuk berteduh dari dinginnya
malam di padang.
Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa mereka tinggal di
padang? Karena mereka berjaga-jaga agar kawanan domba mereka tidak dicuri oleh
perampok atau dimangsa oleh binatang-binatang buas. Mereka terjaga pada waktu
malam, rela menahan dinginnya angin malam demi tugas dan tanggung jawab mereka
sebagai gembala. Meskipun pekerjaan mereka terlihat sederhana, sesungguhnya
mereka adalah pribadi-pribadi yang tekun, setia, berani, dan bertanggung jawab
terhadap pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka.
Tulisan ini akan menguraikan secara lebih mendalam apa saja
yang dialami oleh para gembala, serta apa yang dapat menjadi teladan iman dari
kehidupan mereka. Bagaimana sikap mereka menyambut kelahiran Kristus di Kota
Daud, dan kiranya teladan iman mereka dapat menjadi motivasi bagi kita dalam
menjalani iman sebagai orang percaya.
A. Ketakutan sebagai Respons yang
Wajar
Teks ini menggambarkan dengan jelas bahwa pada waktu malam,
para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan domba mereka (ayat 8).
Kata agrauleō menunjukkan bahwa mereka bermalam di tempat terbuka,
menginap di luar ruangan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan
aktivitas tinggal atau menetap di ladang, termasuk kegiatan berkemah atau
bermalam di padang[1]
Pada saat itulah seorang malaikat Tuhan—yang menampakkan
diri seperti seorang manusia—berdiri di dekat mereka. Pada waktu yang sama,
kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka, sehingga mereka menjadi sangat
ketakutan. Kehadiran malaikat Tuhan dan pancaran kemuliaan-Nya merupakan tanda
kehadiran Allah bagi manusia, yang dalam teologi dikenal sebagai theophany.[2]
Dalam Alkitab, ketika manusia berjumpa dengan manifestasi ilahi seperti ini,
respons yang paling umum adalah ketakutan—sebagaimana yang dialami oleh para
gembala.
Hal
ini selaras dengan pengalaman tokoh-tokoh iman dalam Alkitab, misalnya:
- Yesaya,
yang melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dengan
ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Respons Yesaya adalah pengakuan diri: “Celakalah
aku! Aku binasa!” Ia menyadari keberdosaannya dan ketidaklayakannya di
hadapan Sang Raja, TUHAN semesta alam (Yes. 6:5).
- Yehezkiel,
ketika melihat rupa kemuliaan Tuhan seperti pelangi, langsung tersungkur
dalam sembah sujud dan mendengar suara TUHAN yang berfirman kepadanya
(Yeh. 1:28).
- Daniel,
saat menerima penglihatan di tepi Sungai Tigris, kehilangan kekuatan,
menjadi pucat, bahkan pingsan. Ia merasa tidak layak berbicara di hadapan
Tuhan (Dan. 10:7–9).
Kemuliaan Tuhan—doxa dalam bahasa Yunani[3]
atau kabod dalam bahasa Ibrani[4]—yang
dialami oleh para gembala dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya bukan sekadar cahaya
terang, melainkan hadirat Allah yang kudus dan penuh kuasa. Kehadiran ini
menyingkapkan keterbatasan dan keberdosaan manusia. Bagi orang Israel,
kehadiran Allah yang kudus dan Mahakuasa sering dimaknai sebagai tanda
kematian, penghakiman, atau intervensi Allah yang serius. Karena itu, sangat
mungkin ketakutan para gembala muncul dari anggapan bahwa kehadiran Allah
adalah untuk menghakimi mereka.
Matthew Henry menjelaskan bahwa kemuliaan Tuhan yang begitu
agung dan dahsyat membuat para gembala tidak sanggup menatap terang-Nya yang
menyilaukan. Cahaya kemuliaan itu menimbulkan ketakutan yang mendalam, seperti
rasa gentar ketika seseorang bersiap menerima kabar yang buruk. Ketika manusia
menyadari betapa rapuh dan penuh kesalahannya diri ini, maka wajar jika setiap
berita dari surga disambut dengan kegentaran—sebab ada kekhawatiran bahwa yang
datang bukanlah kabar kasih, melainkan utusan murka Allah.[5]
Konteks sosial dan religius semakin memperkuat ketakutan
tersebut. Para gembala sering dipandang najis, dianggap tidak mampu menaati
hukum Taurat secara sempurna. Mereka adalah kaum terpinggirkan, bukan kelompok
yang religius atau terpandang. Secara psikologis, mereka membawa beban rasa
tidak layak, rendah diri, dan mungkin rasa bersalah yang terpendam.
Namun, yang menarik adalah bahwa ketakutan mereka mulai
luntur ketika malaikat itu berkata: “Jangan takut.” Kalimat ini menjadi
peneguhan ilahi yang mematahkan rasa gentar mereka. Dugaan bahwa kehadiran
Allah berarti penghakiman mulai digantikan oleh sebuah pertanyaan baru dalam
hati mereka: Jika bukan untuk menghakimi, lalu apa maksud kemuliaan Tuhan
yang kami saksikan ini?
Rasa
takut itu semakin pudar ketika malaikat menjelaskan bahwa kedatangannya
bertujuan untuk memberitakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa. Ketakutan yang
semula melumpuhkan batin mereka kini digantikan oleh kabar sukacita. Allah yang
mereka sangka datang sebagai Hakim ternyata hadir sebagai Juruselamat.
Pelajaran dari Para Gembala
Beberapa
pelajaran iman yang dapat kita petik dari pengalaman para gembala adalah
sebagai berikut:
- Kesadaran
akan keberdosaan dan ketidaklayakan di hadapan Tuhan. Sikap ini semakin
jarang ditemui. Banyak orang kehilangan kepekaan spiritual, merasa diri
benar, bahkan lebih rohani dan sempurna daripada orang lain.
- Kehadiran
Tuhan tidak selalu identik dengan penghakiman dan hukuman, tetapi justru
mendatangkan sukacita yang besar. Oleh karena itu, kehadiran Tuhan
seharusnya tidak menimbulkan ketakutan karena rasa bersalah, melainkan melahirkan
rasa takut yang kudus yaitu takut yang dipenuhi hormat, kekaguman, dan
dorongan untuk memuliakan Tuhan sebagai Pemilik hidup kita dan Penguasa
seluruh alam semesta.
[1] Kata agrauleō dalam Hebrew/Greek Interlinear Bible, Luk
2:8
[2]
Teofani adalah manifestasi Allah yang dapat dirasakan oleh indra manusia (William
C. Williams, The Evangelical Dictionary of Biblical Theology (Baker).
https://www.biblestudytools.com/dictionary/theophany
[3] Doxa
adalah keagungan yang dimiliki oleh Tuhan https://www.biblestudytools.com/lexicons/greek/nas/doxa.html,
Kemuliaan, kemegahan, hadirat Allah (https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=1391),
kata ini berasal dari kata dasar dokeo ; kemuliaan (sebagai sesuatu yang sangat
nyata), jika diperluas penggunaannya maka dapat berarti martabat, kemuliaan, kehormatan,
pujian, penyembahan https://biblehub.com/greek/1391.htm
[4] Kabod
artinya kemuliaan, kehormatan, kemegahan, kejayaan https://www.blueletterbible.org/lexicon/h3519/kjv/wlc/0-1/
[5] Mattew Hendry, Tafsiran Lukas 2:9, Tafsiran SABDA.
Komentar
Posting Komentar