Makna Teologis Pujian Bala Tentara Surga (Eksosisi Lukas 2:14)

 

Makna Teologis Pujian Bala Tentara Surga

Ekposisi Lukas 2:14

Pdt. Naysalmin Lumbaa, M. Th

Pujian bala tentara surga dalam Lukas 2:14 menegaskan dua pokok teologis yang penting.

Pertama: Kemuliaan bagi Allah (Luk. 2:14a)

NA28: δόξα ἐν ὑψίστοις θεῷ (doxa en hypsistois theō).

TB: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.”

TSI3: “Kemuliaan bagi Allah di tingkat surga yang tertinggi!”

VMD: “Kemuliaan bagi Allah di surga.”

Kata kemuliaan diterjemahkan dari kata Yunani δόξα (doxa), yang berarti kemuliaan atau keagungan sebagai perwujudan kuasa Allah yang luar biasa, serta reputasi yang unggul (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d. BibleWorks, Luk. 2:14, “doxa"). Kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai kehormatan (Newman, n.d.).

Kelahiran Kristus merupakan cara Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia yang berdosa, dan pada saat yang sama mendatangkan kemuliaan bagi Allah sendiri. Melalui pertobatan manusia yang berdosa dan penerimaan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, orang percaya menerima hidup kekal (Yoh. 3:16). Keselamatan yang dialami oleh setiap orang yang bertobat mendatangkan kemuliaan bagi Allah, dan sorak-sorai pun terjadi dalam Kerajaan Allah.

Melalui pujian ini, para malaikat menegaskan bahwa keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah, dan bahwa kemuliaan itu kembali kepada Allah. Keselamatan yang dikerjakan oleh Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus merupakan inisiatif Allah sendiri, bukan hasil usaha manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui inkarnasi, yakni kelahiran Sang Anak dalam rupa manusia. Ia adalah Mesias yang dijanjikan (Yang Diurapi), namun datang dalam kesederhanaan. Dengan demikian, pujian para malaikat juga merupakan pengakuan surgawi atas karya Allah yang mulia dan agung.

Kedua: Damai sejahtera bagi manusia (Luk. 2:14b)

TB: “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

TSI3: “Dan di dunia ini hendaklah setiap orang yang berkenan kepada-Nya merasa tenang dalam perlindungan-Nya!”

VMD: “Dan damai sejahtera di atas bumi di antara orang yang berkenan kepada Allah.”

Kelahiran Kristus mendatangkan damai sejahtera (eirēnē), yang secara makna setara dengan konsep shalom dalam Perjanjian Lama. Dalam konteks teologis Alkitab, manusia yang berdosa adalah musuh Allah (seteru Allah). Selama manusia berada di bawah kuasa dosa, ia tidak mungkin mengalami damai sejahtera yang sejati. Oleh karena itu, kelahiran Yesus membawa damai sejahtera bagi manusia. Ia bukan hanya pembawa damai sejahtera, melainkan sumber damai sejahtera itu sendiri.

Ia datang sebagai pemberi damai sejati, menjawab kebutuhan masayarakat pada zaman itu yang merasa bahwa mereka menerima kedamaian dari pemerintahan Kaisar Agustus sesuai anggapan orang banyak, meskipun kedamaian itu hanya sementara. Yesuslah yang datang memberikan kedamaian abadi (Bergant & Karris, 2010, p. 120). Yesus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu…” (bdk. Yoh. 14:27). Kedatangan Yesus ke dalam dunia menjadi jalan bagi manusia untuk memperoleh kembali damai sejahtera yang telah direnggut oleh dosa. Melalui jalan pendamaian ini, manusia tidak lagi menjadi musuh Allah, melainkan hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Penegasan penting dalam bagian ini terdapat pada frasa “di antara manusia yang berkenan kepada Allah.” Kalimat ini menegaskan bahwa damai sejahtera itu dialami oleh manusia yang hidupnya berada dalam perkenanan Allah. Kata berkenan diterjemahkan dari kata Yunani εὐδοκίας (Luk. 2:14 NA28). Secara umum, kata ini berarti sesuatu yang menyenangkan atau yang berkenan.

Dalam kaitannya dengan manusia, kata ini dapat menunjuk pada sikap atau niat yang baik, seperti itikad baik, niat baik, atau dorongan batin yang kuat—keinginan, hasrat, kesukaan, atau kerelaan. Namun, jika digunakan dalam relasi dengan Allah, kata ini menunjuk pada kesenangan Allah, perkenanan Allah, persetujuan, atau kerelaan Allah sendiri (Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, n.d. sv. “εὐδοκίας”).

Kata εὐδοκίας menjadi kunci penting dalam menarik kesimpulan teologis. Pertanyaannya adalah: dari mana perkenanan ini berasal? Apakah dari manusia (kehendak baik manusia), atau dari Allah (perkenanan Allah)? Jika dibaca sekilas, Lukas seolah-olah menggambarkan manusia yang berkenan kepada Allah. Namun, jika menelusuri pola bahasa dan latar belakang pemahaman Yahudi, misalnya dalam naskah Qumran (1QH 4:32), frasa “manusia perkenanan” menunjuk pada manusia yang menjadi objek perkenanan Allah, bukan manusia yang memiliki kehendak baik secara moral (Bauer & Danker, n.d.). Sejalan dengan itu, The Wycliffe Bible Commentary menegaskan bahwa damai sejahtera tersebut bukan dianugerahkan semata-mata kepada mereka yang merasa memiliki niat baik terhadap Allah, melainkan kepada pribadi-pribadi yang hidupnya berkenan dan mendapatkan perkenanan dari Allah sendiri (Pfeiffer & Harisson, 2020, p. 286).

Penafsiran ini diperkuat oleh analisis sastra Injil Lukas, yang secara konsisten menekankan bahwa kasih karunia (Luk 1:30), keselamatan (Luk 2:11), damai sejahtera (Luk 2:14), dan perkenanan (Luk 2:14) selalu merupakan inisiatif Allah, bukan hasil dari moralitas atau kebaikan manusia. Manusia dapat menerima dan menemukan damai sejahtera karena Allah berkenan terlebih dahulu, bukan karena manusia lebih dulu memiliki niat baik. Namun demikian, manusia kemudian merespons anugerah tersebut dalam iman.

Perkenanan Allah selalu mendahului respons manusia, sehingga keselamatan harus dipahami sebagai anugerah, bukan sebagai upah. Dalam Injil Lukas, damai sejahtera atau keselamatan sering dikaitkan dengan iman, misalnya dalam pernyataan Yesus, “Imanmu telah menyelamatkan engkau; pergilah dengan selamat (εἰς εἰρήνην)” (Luk. 7:50; 8:48). Iman, dalam konteks Lukas, berarti percaya kepada karya Allah, bersandar pada belas kasihan-Nya, dan menerima Yesus sebagai pembawa keselamatan.

Dengan demikian, secara teologis, damai sejahtera di bumi diberikan kepada manusia yang kepadanya Allah berkenan, sebagai hasil dari kehendak dan anugerah Allah sendiri. Manusia menjadi objek dan sasaran dari damai sejahtera serta perkenanan Allah. Damai sejahtera, keselamatan, dan perkenanan Allah tidak diterima karena usaha manusia, melainkan semata-mata karena anugerah Allah bagi manusia yang berdosa, yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

Referensi:

Bauer, & Danker. (n.d.). Greek-English Lexicon of the NT (BDAG). BibleWorks,LCC.

Bergant, D., & Karris, R. J. (2010). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Kanisius.

Friberg, Timothy; Friberg, Barbara; Miller, N. F. (n.d.). Analytical Greek Lexicon.

Newman, B. (n.d.). Greek-English Dictionary. BibleWorks,LCC.

Pfeiffer, C. F., & Harisson, E. F. (2020). Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru. Gandum Mas.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus