KASIHILAH TUHAN ALLAHMU:Kajian Eksposisi Matius 22:37

 KASIHILAH TUHAN ALLAHMU:Kajian Eksposisi Matius 22:37 (Pdt. Naysalmin Lumbaa, M. Th) 


Jawab Yesus kepadanya:

 "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37 TB) 


Mari kita menganalisa strukur teks ini


1. PERINTAH

" Kasihilah"


Diterjemahkan dari kata Ἀγαπήσεις yaitu kata kerja dari kata dasar ἀγαπάω (future, aktif, indikatif, orang kedua tinggal) artinya "kamu akan mengasihi". Meskipun bentuk kata ini indikatif, namun ketika dipakai mengutip hukum Taurat maka berubah perannya menjadi Imperatif (perintah) sehingga maknanya berubah menjadi " Kamu harus mengasihi) 


2. SASARAN KASIH


"Tuhan, Allahmu"

Diterjemahkan dari κύριον τὸν  Θεόν.  "κύριον" adalah kata benda akusatif maskulin tunggal dari  kata dasar κύριος artinya Tuhan, penguasa, pemilik. Dilanjutkan τὸν adalah artikel defenitif yang menunjukkan bahwa Allah adalah sasaran kasih dari orang percaya. Selanjutnya adalah kata Θεόν dari kata θεός.  Θεόν adalah kata benda akusatif maskulin tunggal, artinya Allah (menjadi objek dari kata kerja) 


3. DENGAN APA DAN BAGAIMANA MENGASIHI

Ada tiga cara mengasihi dalam ayat ini:

a. dengan segenap hatimu

ἐν ὅλῃ τῇ καρδίᾳ σου (en hole te kardia sou)

Inggris: with all the heart of you


Dimaka kata ὅλῃ dari kata holos( kata sifat) artinya semuanya, segenap, komplit

Dan kata καρδίᾳ yaitu hati yang menjadi pusat perasaan, emosi, kasih dan kerinduan


maka implikasinya adalah bahwa setiap motivasi, keinginan, hasrat, dan afeksi terdalam kita harus diarahkan kepada Tuhan, sehingga tidak ada ruang dalam hati yang terbagi atau tersisa bagi hal lain yang menyaingi kasih kita keptertingg


b. Dan dengan segenap jiwamu

καὶ ἐν ὅλῃ τῇ ψυχῇ σου (kai en hole te Psyche sou) Inggris: and with all the soul of you


Kata kai adalah kata sambung yang menunjukkan bahwa hal sebelumnya memilki kesamaan derajat atau kesejajaran kepentingan dengan hal berikutnya


Kata ψυχῇ (psuche) artinya nafas hidup, hembusan kehidupan, jiwa manusia, pusat perasaan dan kehendak, diri (identitas pribadi), individu. 


Jadi implikasinya adalah 


kita mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa (psuchē) berarti mengasihi-Nya dengan seluruh keberadaan terdalam kita, dengan napas hidup, perasaan, kehendak, dan identitas pribadi kita. Itu menuntut penyerahan total, di mana seluruh diri kita sebagai individu, dengan seluruh dorongan batin dan pusat keputusan, diarahkan untuk mencintai, menaati, dan hidup bagi Tuhan sepenuhnya.


c. Dan dengan segenap akal bumi


καὶ ἐν ὅλῃ τῇ διανοίᾳ σου (kai en hole te dianoia sou) 

Inggris: and with all the mind of you


Kata διανοίᾳ adalah kata benda datif feminim tunggal dari kata dasar διάνοια adalah gabungan dari kata dia (melalui) dan nous (pikiran) 

Kata διανοίᾳ berarti pengertian, intelektual, pikiran, wawasan atau pemahaman

Implikasinya adalah bahwa seluruh proses berpikir—cara kita menilai, menalar, merenung, memahami, dan memutuskan—harus dituntun oleh kasih kepada Tuhan. Dengan kata lain, kita mengasihi Tuhan melalui cara kita berpikir benar, belajar kebenaran, menilai segala sesuatu dengan hikmat, dan menundukkan seluruh kemampuan intelektual kita kepada kehendak-Nya.

Kesimpulan:

Matius 22:37 menegaskan bahwa perintah untuk mengasihi Tuhan bersifat mutlak dan total, sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk kata Ἀγαπήσεις yang, meski beraspek indikatif, berfungsi sebagai imperatif ketika mengutip hukum Taurat. Sasaran kasih ini adalah Tuhan Allah sendiri—κύριον τὸν Θεόν—yang ditunjukkan secara jelas sebagai objek tunggal dari kasih manusia. Yesus kemudian menjelaskan bahwa kasih ini harus mencakup seluruh dimensi keberadaan manusia: hati (kardia) sebagai pusat perasaan dan afeksi, jiwa (psuchē) sebagai inti kehidupan, identitas, dan kehendak, serta akal budi (dianoia) sebagai pusat pengertian dan pemikiran. Dengan demikian, mengasihi Tuhan berarti mengarahkan seluruh motivasi, keinginan, identitas pribadi, serta kemampuan berpikir dan memahami sepenuhnya kepada Tuhan, tanpa ruang bagi kasih yang terbagi. Perintah ini menuntut penyerahan total yang melibatkan emosi, eksistensi, dan intelektualitas, sehingga seluruh aspek hidup tunduk kepada Allah sebagai satu-satunya objek kasih tertinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus