PERKEMBANGAN TEOLOGI DAN POLARISASI, KRITIK DAN PERDEBATAN TEOLOGI

 

PERKEMBANGAN TEOLOGI:

POLARISASI, KRITIK DAN PERDEBATAN TEOLOGI



DAFTAR ISI

KATAR PENGANTAR                                           

DAFTAR ISI

BAB I  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penulisan
  4. Manfaat Penulisan

BAB II  PEMBAHASAN

  1. Defenisi Teologi
  2. Perkembangan Teologi

1.      Teologi Abad Permulaan

2.      Teologi Abad Pertengan

3.      Teologi masa Reformasi

4.      Teologi Modern

5.      Teologi Abad 21

  1. Polarisasi dalam perkembangan teologi : Kritik Teologi dan Perdebatan

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

 

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Teologi adalah salah satu cabang ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari, karena merupakan suatu cabang ilmu yang terus mengalami perkembangan. Dalam perkembangannya, teologi memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan tantangan zaman yang dihadapinya. Meskipun Alkitab, sebagai sumber utama utuk membangun teologi tidak berubah, tetapi teologi tidak berarti tidak mengalami perkembangan. Para teolog memiliki masing-masing cara untuk melakukan penafsiran terhadap teks-teks Alkitab dan mengaplikasikan dalam kehidupan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Rumusan teologi yang dibangun oleh seorang teolog tidak serta merta diterima teolog yang lainnya. Dari abad pertama hingga abad 21 selalu ada perdebatan-perdebatan yang mewarnai perkembangan teologi, yang menghasilkan beragam pandangan terhadap satu topik dalam kajian teologi. Pandangan yang beragam ini disatu sisi semakin memperkaya ilmu teologi itu sendiri, tetapi disisi lain perbedaan pandangan juga bisa menjadi pemicu terjadinya perpecahan bahkan permusuhan baik secara individu maupun secara lembaga. Dengan adanya perbedaan-perbedaan dalam pandangan teologi, seharusnya tidak dipandang sebaga penghambat untuk belajar teologi. Perbedaan-perbedaan tersebut akan memperkaya wawasan teologi seseorang yang mempelajarinya, namun perlu bersikap selektif terhadap suatu ajaran, teori atau pengalaman seseorang dalam berteologi, sebelum diajarkan atau diterapkan dalam pelayanan.

Perbedaan teologi yang dibangun diabad pertama, abad pertengahan, masa reformasi dengan perkembangan teologi di bad 21 tentu memiliki tantangan yang berbeda. Teologi yang lahir pada abad permulaan antara abad satu sampai abad tiga, teologi dipengaruhi oleh budaya Helenisme-Romawi yang begitu kuat. Disamping itu tantangan dari pemerintah Roma, yang berusaha menghambat pertumbuhan gereja pada masa itu, pada abad pertengahan yaitu abad empat ampai abad ke enam belas, sebelumnya terjadinya reformasi, gereja berada pada masa kegelapan. Munculnya teologi sholastik yang dimulai oleh Anselmu dan diakhiri oleh Thomas Aquinas, yang pemahamannya masih berpengaruh sampai sekarang. Sampai akhirnya muncul Marthin Luther dan Yohanes Calvin pada masa reformasi, dan teolog-teolog lainnya sebagai reaksi terhadap keadaan yang dialami gereja pada masa itu. Teologi-teologi yang muncul setelah reformasi ini memicu munculnya berbagai aliran dalam kekristenan yang diketahu sampai sekarang, yaitu calvinis. Lutheran, metodis, baptis, kharismatik dan aliran-aliran lain yang terus mengalami perkembangan.

Tantangan yang dihadapi oleh gereja di abad 20 hingga abad 21, tentu jauh lebih berbeda. Perkembangan teknologi dan globalisai menjadi persoalan utama yang dihadapi oleh gereja masa kini. Rumusan teologi yang dibangun, berkaitan dengan kemajuan tekonolgi, persoalan-persoalan etis yang timbul karena globalisasi dan teknologi, pemanfaatan tekonlogi dalam menyebarkan injil menjadi persoalan penting yang harus disikapi dengan benar.  Disamping itu munculnya aliran-aliran dalam kekristenan sejak abad 16 menyebabkan terjadinya ekslusivisme aliran sehingga kerap kali terjadi pertentangan antara kelompok aliran yang satu dengan yang lainnya. Seperti yang sering terjadi, kelompok calvinis atau lutheran sering mempersoalkan pengajaran aliran kharismatik yang terlalu menekankan karunia-karunia Roh Kudus ketimbang pengajaran kepada jemaat, disisi lain aliran kharismatik mempersoalkan ibadah calvinis dan lutheran denga sebuatan “gereja tidak ada Roh Kudus”, yang dipublikasi melalui media yang dapat diakses dengan mudah oleh siapapun, dapat memicu terjadinya perdebatan-perdebatan, terjadinya saling serang antar teolog, atau menjadi celah bagi teolog-teolog dari agama lain untuk untuk melakukan serangan terhadap ajaran kerkristenan.

Terjadinya saling kritik dan saling serang baik itu antar teolog yang berbeda sinode, berbeda aliran maupun antar teolog-teolog agama-agama menambah khasanah perkembangan teologi di abad ini. Ada yang berniat untuk mengingatkan, tetapi tidak sedikit yang berniat untuk menjatuhkan pengajaran yang lain. Sikap menganggap diri dan ajaran paling benar cenderung menjadi faktor giatnya seseorang mencari-cari kesalahan orang lain dan berniat menjatuhkannya. Perdebatan dan saling kritik memang tidak bisa dihindari, apalagi dizaman keterbukaan informasi, pemanfaatan teknologi dengan beragam media untuk mengupload pengajaran ataupun pandangan teologi akan dengan mudah memantik tanggapan, kritik ataupun serangan orang lain.  

Penulis melihat pentingnya membahas perkembangan mulai dari abad pertama hingga abad ini, dengan melihat persoalan-persoalan yang muncul dalam setiap tahap perkembangannya, yang dapat dijadikan acuan  baik dalam pengajaran disekolah-sekolah teologi maupun dalam pengembangan penelitian teologi selanjutnya. Selain itu, penulis melihat pentingnya membahas polarisasi dalam perkembangan teologi, untuk menjadi pembelajaran bagi pembaca bagaimana bersikap atas perkembangan pengajaran masa kini.

 

2.      Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

a.       Bagaimana perkembangan teologi dari abad permulaan sampai abad 21?

b.      Bagaimana polarisasi yang terjadi dalam perkembangan teologi dari abad permulaan sampai abad 21?

3.      Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

a.       Untuk menjelasakan perkembangan teologi dari abad permulaan sampai abad 21

b.      Untuk menjelaskan polarisasi yang terjadi dalam perkembangan teologi dari abad permulaan sampai abad 21.

4.      Manfaat Penulisan

Penulisan makalah ini bermanfaat untuk :

a.       Bagi penulis sendiri makalah ini bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai perekembanagn teologi dan polarisasi yang terjadi dalam perkembangan teologi, dan sebagai syarat untuk mendapatkan nilai dalam mata kuliah Teologi Kontemporer.

b.      Bagi pembaca, selain menjadi bahan ilmu yang menambah wawasan, juga dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya tetang perkembangan teologi dari masa kemasa.

c.       Bagi para mahasiswa dan dosen sekolah teologi,  makalah ini bisa menjadi referensi dalam kelas perkuliahan, yang dapat mendorong untuk menggali perkembangan teologi dari awal kekristenan sampai abad 21.

 

Bab II

PEMBAHASAN

 

A.    Defenisi Teologi

Secara etimologi teologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu theos dan logos.Theos artinya Allah dan Logos artinya ilmu.[1] Jadi Teologi artinya ilmu tentang Tuhan atau Ilmu Ketuhanan. Namun dalam perkembangannya, teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi teologi juga membahas tentang karya-karya Allah dan kehidupan kekristenan yang bersumber dari Alkitab. Pengrtian ini memiliki kesamaan dengan defenisi teologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teologi dalam KBBI teologi adalah sebagai pengetahuan tentang ketuhanan mengenai sifat-sifat-Nya dan dasar-dasar kepercayaan kepada-Nya dan agama. terutama berdasarkan pada kitab suci [2]

            Para teolog juga memberikan pendapat mereka tentang rumusan defenisi tentang teologi. Louis Berkhoft mengatakan bahwa teologi adalah pengetahuan sistematis tentang Allah, yang dari-Nya, oleh-Nya, melalui-Nya dan bagi-Nya segala sesuatu berada.[3] Berkaitan tentang defenisi ini, Louis Berkoft menyusun pengetahuan tentang Allah dan karyan-Nya dan disusun secara sistematis dalam kajian teologi sitematika dalam seri buku sitematika teologi. Sedangkan teolog Indonesia, Eka Darmaputra mengatakan, teologi adalah upaya untuk mempertemukan  secara dialektis, kreatif secara esensial antara “teks” dan “konteks,” antara  “kerygma yang universal dan kenyataan hidup yang kontekstual. Juga didefenisikan  sebagai, upaya untuk merumuskan penghayatan iman Kristen pada konteks, ruang,  dan waktu yang tertentu.[4]

B.     Perkembangan Teologi

Pada hakekatnya, perkembangan teologi terkait erat dengan sejarah Gereja dan sejarah kehidupan manusia. Namun, tidak ada batas yang jelas antara satu periode dengan periode lainnya. Batista Mondin menuliskan bahwa  Secara  umum, diakui bahwa Sejarah Teologi dibagi atas empat periode, yaitu  zaman Purba (klasik), zaman Skolastik, zaman Modern dan zaman  Kontemporer.[5] Merunut perkembangan teologi dari setiap masa atau periode akan memberikan gambaran pengetahuan tentang luasnya kajian teologi serta tantangan dalam teologi yang begitu rupa. Banyak teolog mengakui bahwa teologi abad permulaan yaitu masa pelayanan rasul-rasul sampai masa bapa-bapa gereja. Diperkirakan dari abad ke-1 akhir sampai abad ke-5. Abad ke-4 sampai abad ke-5 disebut abad pertengahan, abad ke-6 sampai abad ke-15 disebut abad teologi Skholastik dan mistikisme, atau biasa juga disebut masa kegelapan gereja.

 

1.      Perkembangan Teologi pada abad Permulaan

Membicarakan tentang abad permulaan tidak lepas dari membicarakan perjuangan bapa-bapa gereja pada akhir abad ke-1 sampai abad ke-5. Sejarah gereja menuliskan peran penting bapa-bapa gereja  dalam pertumbuhan gereja. Bapa-bapa gereja adalah orang-orang yang melanjutkan pengajaran dari Para Rasul dari era sebelumnya atau era patristik. Patristik adalah konsep yang dikemukakan pada zaman Modern yang berasal dari kata Patres dalam bahasa Latin yang berarti "ayah", sehingga ada sebuah studi yang lahir pada Abad pertengahan yaitu Patrologi. Bapa gerejalah yang memelihara ajaran dan spiritualitas dari para rasul.

Generasi era patristik menjadi titik balik yang begitu mendalam perkembangan gereja mula-mula. Gereja yang baru berkembang ini menghadapi tantangan yang begitu rupa, penganiayaan, penindasan dari penguasa dan ajaran-ajaran sesat menjadi topik utama yang mewarnai perkembangan teologi. Masa ini dimulai sejak tahun 100 M dimana pembelaan (Apologia) Justin Martir menjadi tulisan mula-mula di abad ke 2.Lahirnya pembela ajaran Kristen diantara tahun 100-495 M, para ahli membaginya berdasarkan karakter dan peran mereka masing-masing. Setidaknya secara wilayah dapat dibagi menjadi 2 golongan, Bapa Gereja Yunani dan barat (Latin). Dari dua golongan ini masih dapat dibedakan lagi berdasarkan karakteristiknya. Karakter yang bisa dilihat antara lain berdasarkan sifat ataupun teritorialnya Bapa-bapa Gereja seperti Apostolik, Apologist, Anti-Gnostik dan Alexandrian.[6]

Tantangan gereja masa ini ialah munculnya ajaran sesat Gnostik yang sangat berpengaruh bagi perkembangan iman Kristen. Gnostik berasal dari kata Yunani “gnosis” artinya pengetahuan. Para penganut gnostik merasa memiliki pengetahuan baru dan jauh lebih tinggi dari iman kristen. Beberepa poko pengajaran gnostik menjadi tantangan terberat bagi kristen dimasa itu. Gnostik percaya bahwa dunia yang menderita tidak mungkin diciptakan oleh Tuhan yang baik. Tubuh manusia dipandang hina dan najis. Karena itu Kristus datang ke dunia bukan untuk menebus tubuh manusia yang hina dan najis, tetapi untuk menebus jiwa manusia yang sebelumnya suci. Mereka percaya bahwa Yesus hanya memiliki tubuh maya, bukan tubuh nyata. Dikatakan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib, tetapi menebus umat manusia melalui pengajarannya. Untuk mencapai keselamatan, seseorang harus memiliki asketisme dan mistisisme, yaitu upaya membuka hubungan langsung dengan Tuhan dan jiwa ketuhanan.

Untuk menghadapi ajaran gnostik tersebut, bapa-bapa gereja melakukan kanonisasi Alkitab, merumuskan pengakuan iman dan menetapkan uskup. Kanon adalah ukuran atau patokan. Dalam penyusunan kanon, gereja sudah memiliki kitab-kitb perjanjian lama. Sehingga gereja tidak membuang Perjanjian Lama yang menyatakan kebenaran Allah. Injil dan surat-surat rasul dinyatakan sebagai firman Allah. Bapa-Bapa gereja benar-benar serius memilah atau membuat pilihan, kitab atau surat yang manakah yang benar-benar berasal dari murid Tuhan. Pada tahun 200, tersusun daftar perjanjian Baru sebagai kanon. Selain itu gereja merumuskan ringkasan pokok-pokok kepercayaan yang menjadi pedoman bagi jemaat. Salah satu pengakuan iman yang tertua ialah “ Yesus adalah Tuhan” yang di kutib dari kitab 1 Korintus 12:3 sebagai landasannya, dan kemudian hari pengakuan ini dikenal sebagai Pengakuan Iman Rasuli.[7]

Sejak awal gereja mengalami aniaya besar-besaran, gereja dihalang-halangi bahkan para pembencinya berusaha untuk menghancurkan sampai tahun 250 Masehi, negarapun berusaha untuk memusnahkan Kristen. kaisar Decius (250) dan kaisar Diokletianus (300) adalah tokoh yang sangat membenci agama Kristen. Tetapi keadaan berubah setelah Kaisar Constantine the Great (312-337) ketika Edit Milano (313) diterbitkan. Sikap Konstantin berubah ketika, sebelum perebutan tahta di Roma (312), ia melihat cahaya terang di langit berbentuk salib, diikuti dengan kata-kata: "Kamu menang dengan tanda ini." Setelah merebut tahta, dia menyatakan pada tahun 313 bahwa Gereja telah memperoleh kemerdekaan penuh. Sebaliknya, semua properti gereja yang disita selama represi harus dikembalikan.[8] Pada masa edict milano ini Konstantin belum menjadi Kristen, namun dukungan negara begitu kuat terhadap gereja dengan memberikan banyak uang untuk membangun gereja-gereja baru.  Negara juga memaksa semua anggota sekte untuk berganung dalam kekristenan. Pada tahun 380 Kaisar Theodosius mengeluarkan sebuah dekrit bahwa semua orang harus mengikuti agama kristen ortodoks. Namun pada masa ini juga lahirlah gerakan untuk memisahkan diri untuk berdoa dan menjauh dari kehidupan masayarakat. Gereja berpengaruh penuh dalam pemerintahan, gereja turut dalam menghakimimush kaisar. Gereja semakin kaya dan jumlah orang kristen semakin bertambah, tetapi justru muncul ketidak puasan banyak orang kristen terhadap keadaan ini, mengakibatkan mereka memilih hidup menyendiri, inilah awal mula lahirnya biara dalam kehidupan gereja.

Pada masa penganiayaan gereja ini, lahirlah tokoh-toko terkenal yang berpengaruh. Justin  Martir ( 100-165 ) adalah salah seorang apologet abad ke-2 dan dikenal sebagai apologeter Kristen terbesar yang menentang paganisme. [9] Dia memberikan contoh sejarah awal tentang seorang teolog yang berusaha menghubungkan injil dengan pandangan filsafat Yunani. Selain Justin Martin, muncul Ireneus dari Lyons (130-200) berasal dari Asia Kecil yang terpilih menjadi uskup kota Lyons di Perancis selatan sekitar tahun 178 M. Dia terkenal karena tulisannya adversus haereses yang membela iman Kristen melawan Gnostisisme. Dan muncul juga Klemens dari Aleksandria ( 150-215 M) seorang penulis Aleksandria terkemuka yang ingin mengeksplorasi hubungan antara pemikiran Kristen dan filsafat Yunani. Kemudian muncul Origenes ( 185-254), seorang wakil terkemuka dari Sekolah Teologi Aleksandria, ia terkenal karena eksopisi alegorisnya terhadap Kitab Suci, dan penggunaan-penggunaan ide-ide platonis dalam teologi, khususnya Kristologi.[10] Ada juga tokoh-tokoh di abad ketiga yang pandangannya masih berpengaruh sampai sekarang. Tertuliasnus (160-255) adalah seorang teolog Latin yang menulis tulisan-tulisan apologetika dan polemik yang berpengaruh. Dia menemukan ekspresi Latin baru untuk menerjemahkan kosakata teologis yang berasal dari Gereja Timur berbahasa Yunani. Juga muncul dari Ciprianus dari Carthhage ( 258), ia adalah seorang ahli retorika Romawi yang memiliki keterampilan besar, ia masuk Kristen tahun 246 M, dan menjadi uskul di Kartago di Afrika Utara pada tahun 248 M. Ia berfokus membahas kesatuan gereja, memelihara ortodoksi dan ketertiban. Selain Ciprianus, Greogorius dari Nazianzuz ( 329-389 M), dikenang karena Orasi Teologis dan kompilasi dari tulisan Origen yag di sebut Philokalia. Dan menulis secara defensif doktrin ortodoks tentang tritunggal.[11] Agustinus dari Hipp ( 354-430), dainggap sebagai penulis patristik Latin yang berpengaruh. Menjadi uskup di Hippo pada tahun 395 M. Dia terlibat dalam dua konflik utama, konflik Donatis, yang berfokus pada gereja dan sakramen, dan konflik Pelagian, yang berfokus pada anugerah dan dosa. Dia juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan doktrin Trinitas dan pemahaman sejarah Kristen.

Persoalan—persoalan yang terjadi pada era permulaan teologi ialah munculnya formula-formula tentang keilahian Yesus. Arius, sorang uskup daria Alexandria, mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan Allah yang terutama dan tertinggi, karena kekuatirannya akan kekristenan yang menganut paham Monoteisme disalah pahami diagama kafir penganut Politeisme jika mengakui Yesus sebagai Allah. Akibat ajaran yang kontroversi ini, mengudang perdebatan dan pertikaian yang panjang, sehingga Konstantinus melihat bahwa pertikaian ini akan membawa dampak pada keamanan negara, sehingga ia memprakarsai dengan mengumpulkan pertemuan semua pihak dan wakil gereja untuk bertemua. Pertemuan itu disebur Konsili Nicea. Hasil konsili ini memutuskan bajwa ajaran Arius adalah bidat ayang harus ditolak dan sekaligus menyatakan bahwa Kristus sehakikat dengan Allah.

Konsili di Nicea, ternyata tidak menyelesaikan ajaran kontorversi dari Arius. Sehingga diadakan konsili Oikumene ke dua dilaksanan di Kontantinopel pada tahun 381 M yang dihadiri 186 Uskup.[12] Konsili kedua ini menghasilkan pengakuan iman yang disebut pengakuan Iman Niceno Konstantinopel yang menegaskan dan mengembangkan kredo yang sebelumya dirumuskan di Konsili Nicea. Namun Arius dan pengkutnya menolak konsili kedua ini dengan tidak membubuhi tanta tangan. Berbeda dengan konsili pertama dan kedua yang dilatarbelakangi oleh ajaran Arius, kosili okumneis ketiga yang diselengarakan di Efesus yang disebut Konsili Efesus dan dihadiri 153 peserta ini dilatar belakangi oleh ajaran Nestorius dan Pelagius. Nestorius menekankan kemanusiaan sejati serta keilahian Yesus dengan menegaskan bahwa Maria, ibu Yesus melahirkan Kristus, bukan Tuhan sendiri. Lanjut ia menegaskan bahwa hanya Kristus,bukan Tuhan yang mati dikayu salib. Setelah konsili Efesus, ajaran Nestorius ditolaka dan dilarang.  Kemudian konsili ke-empat yaitu konsili Kalsedon pada tahun 451, yang merupakan titik awal perpecahan Kristen di abad permulaan mejadi gereja Roma dan Ortodoks Timur. Diprakarsai oleh kaisar Marcian dan dihadiri oleh sekitar 520 uskup atau perwakilan. Konsili ini merupakan pertemuan para uskup terbesar dan paling banyak didokumentasikan, sekitar 500-600 uskup berhimpun. Dalam konsili ini dewan menyetujui kredo Nicea (325), kredo Konstantinopel (381; selanjutnya dikenal sebagai Pengakuan iman Nicea) dan mengutuk ajaran Eutyches yang dikenal sebagai monophysitism. Pada konsili ini diakui tentang kemanusiaan Yesus yang tidak kalah penting dari keilahian Yesus.

 

2.      Teologi Abad pertengahan

Teologi yang lahir dari tahun 590 sampai tahun 1517 sering disebut teologi abad pertengahan. Abad pertengahan dalam perkembangan gereja ditandai dengan diangkatnya Gregrius sebagai Paus pada tahun 590, yang kemudian dikenal sebagai Gregorius I Agung.[13] Ia dianggap sebagai paus pertama dalam sejarah gereja, meskipun beberapa orang menganggap Leo I Agung sebagai paus pertama yang menjadi Uskup Roma dari tahun 440-461. Selama sepuluh abad berikutnya, Gereja menguasai Eropa, dikenal juga dengan Zaman Kegelapan, yang diakhiri dengan pukulan telak, yaitu pemakuan 95 tesis Martin Luther terhadap Paus di pintu Gereja Wittenberg di Roma, Jerman. memasuki era baru, yaitu era Reformasi.[14]

Berbicara tentang abad pertengan berarti tidak lepas dari kemuncunlan dua gerakan teologi yang muncul pada masa itu yaitu teologi scholastika dan teologi mistikisme. Pada masa-masa tahap perkembangan teologi ini akan dibahas tentang pandangan Ensalmus sebagai pendiri aliran scholastik dan Pandangan Thomas Aquinas sebagai puncak kejayaan scholastik. Selain membahas scholastik, pada era ini juga akan dilihat pemikiran-pemikiran yang muncul dari penganut Mistikisme.

a.         Teologi Scholastik

Teologi yang bertumbuh pada abad-abad permulaan adalah teologi yang berkembang diantara bapa-bapa gereja yang mayoritas adalah orang-orang Yunani dan Romawi yang dipengaruhi oleh cara berfikir filsafat untuk membela ajaran Kristen dari serangan-serangan ajaran sesat dan bidat-bidat sehingga dirumuskanlah kredo atau pengakuan iman dalam setiap konsili. Teologi babapa-bapa gereja diwariskan kepada generasi berikutnya, namun ada ketidakpuasan dari generasi berikutnya yang merlihat karya-karya dari pemikir Kristen yang sangat terbatas, hanyalah kutipan-kutipan dari karangan bapa-bapa gereja. Sementara karangan-karangan para filsuf  Yunani mulai muncul dan menjadi perhatian.[15] Hal ini menjadi ancaman bagi gereja yang dianggap lebih daripada bidat-bidat. Namun gereja berusaha menyelaraskan filsafat dengan teologi, para ahli intelektual beranggapan bahwa filsafat yang meskipun berlainan dengan ajaran gereja namun mereka memandangnya sebagai sesuatu yang bisa diteladani. Gereja mengalami dilema, sehingga memberi jawab : menyelasraskan teologi dengan filsafat.[16]

Mengapa disebut teologi Scholastik karena teologi ini pada tahun 1000, terjadi dikalangan pelajar saja dan tidak berhubungan sama sekali dengan jemaat awam. Teologi scholastik hanya diusahakan disekolah-sekolah, sehingga dinamakan scholastik.[17]  Istilah Scolastik berasal dari bahasa laltin artinya sekolah. Istilah ini mencakup pola dan metode mengajar yang berusaha untuk mengorganisir dan mensistemasir seuruh pengetahuan secara rasional dan logis.[18] Soal utama yang dipikirkan oleh scholastik ialah bagaimana relasi anatara wahyu dengan akal manusia. Untuk mnegerti penyataan Tuhan maka dipakailah teologi Agustinus sedangkan untuk melatih diri dalam berpikir menurut filsafat digunakan kitab logica karangan Aristoteles, karena pada saat itu hanya kitab Aristoteles yang dikenal oleh dunia barat.[19]

Pokok-pokok pemikiran yang muncul pada abad pertengahan:

1.      Boethius ( 480-524), Cassiodor

Boethius adalah pengikut Neo-Platonisme yang menjadi Kristen. Neo Platonisme adalah perkembangan selanjutnya dari dualisme Platonis  oleh Plotinus dari Likopolis Mesir, pandangannya bahwa kehidupan rohani tidak dapat diraih melalui usaha akal tetapi melalui hubungan kebatinan dengan Yang Mahakuasa. Karena daya pikir manusia tidak akan mampu mencapai Allah, hanya perasaanlah yang dapat menjalin komunikasi dengan-Nya[20]  Iman Kristen Boethius yang dangkal karena lebih tertark kepada Neo-Platonisme dan memberikan tempat yang sentral dalam pemikirannya ketimbang iman Kristen. Sehingga banyak yang meragukannya sebagai teolog. Ia disebut sebagai orang Romawi yang terakhir dan penganut scolastik yang pertama,[21] Ia menerjemahkan seluruh karya Aristoteles ditambah dengan penjelasan-penjelasannya sendiri. Ia berusaha mengharmonisasikan filsafat utama Yunani Aristoteles, Paltonisme dan Neo Platonisme. Ia menganggap filsafat segala-galanya sehingga dalam karya-karnya sedikit sekali menyebutkan tentang Kristen, Yesus Kirstus, iman, dosa dan lain-lain yang berkaitan dengan iman Kristen. Karyanya banyak dibaca oleh kaum intelektual pada abad-abad pertengahan.

 

Cassidor adalah seorang Kanselir di Ravenna Italia dalam pemerintahan Theodrik Agung. Setelah keruntuhan kerajaan Goth Timur tersebut, ia menjadi biarawan dan mendirikan sebuah biara, ia dijadikan sebagai pusat pendidikan agama maupun sekular.[22]  Ia menhanjurkan penggabungan filsafat dengan teologi. Ia menugaskan biarawan untuk menyalin buku-bku teologi dan buku-buku filsafat dengan tangan karena belum ada percetakan dieropa. Tindakannya ini memberikan pengaruh terhadap perkembangann pendidikan di Eropa pada kemudian hari, sehingga karangan-karangan Aristoteles, Plato dan akarngan yang lainnya mau tidak mau harus dipelajari. Biara-biara menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan.

 

2.      Permulaan Scolastik ( 1000-2000)

Anselmus Lahir di Aosta Itali, ayahnya seorang bangsawan yang korup. Ia meninggalkan keluarganya dan merantau ke Inggris. Ia menjadi uskup agung Canterbury, Inggris  pada tahun 1093-1109.[23] Ia dianggap sebagai pendiri teologi Scholastik. Pendapatnya bahwa wahyu atau penyataan Allah-lah bukan filsafat, yang memberikan kepada kita isi iman Kristen.  Akan tetapi seorang teolog yang percaya kemudaian dapat berusaha, dengan memakai akal budinya, untuk lebih mengerti apa yang ia percaya. Ia memiliki smeboyan aku percaya maka aku mengerti.[24]  Karya Anselmu yang terkenal ialah kitab dengan judul “Cur Deus Homo” ( Apa sebabnya Allah menjadi manusia)[25] Karyanya ini adalah bagian dari pembelaan terhadap tuduhan bahwa sangat tidak layak bagi Allah untuk menjadi manusia dan mati dikayu salib yang hina untuk keselamatan manusia. Namun Anselmus menjawab dalam karyanya ini bahwa hal itu menjadi pantas karena tidak ada jalan lain kecuali Allah harus menjadi manusia[26] untuk menyelamatkan manusia.

3.      Kejayaan Scholastik

Kejayaan Scholastik terjadi pada abad 14, pada masa ini gereja menduduki puncak kekuasaan atas dunia. Para skolastik mulai memenuhi tugasnya, yaitu menyatukan teologi Agustinus dengan filsafat Aristoteles, sehingga dengan cara ini dapat tercipta bangunan pemikiran yang mulia, yang melaluinya segala sesuatu di bumi dan di surga dapat dijelaskan.

 

Thomas Aquinas atau disebut Thomas dari Aquinas ( 1225-1274)[27], menghasilkan banyak karya  teologis sebagai puancak usaha untuk menyesuaikan satu sama lain dan mencari keseimbangan antara unsur-unsur yang oleh kaum scholastik dicoba dihubungkan, yakni akal budo dengan wahyu (penyataan ), Alkitab dengan tradisi, Aristoteles dengan Agustinus.[28] Teologi Thomas disebut Thomisme. Karya Thomas Aquinas yang palin menonjol yaitu summa contra Gentiles ( Pegangan Melawan Orang Kafir ) pada tahun 1260-an, dan Summa Theologiae ( Ikhtisar Teologi ). Ia berhasil menampung azas-azas filsafat dalam suatu sistem teologi secara menyeluruh. Ia mengawinkan filsafat Aristoteles dengan Ajaran Katolik. Ia tidak setuju dengan mereka yang hendak membasmi Aristoteles dari dalam gereja karena ia adalah pengikut setia filsafat Aristoteles ini, baginya Aristoteles dapat dipadukan dengan gereja tanpa konflik.[29]  Pemikiran Thomas tentang Allah menunjukka bahwa ia dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato. Pengaruh Plato dalam pendapatnya bahwa Allah adalah Yang tertinggi, yang mempunyai ke-ada-an yang paling tinggi; kita berada di tingkat yang lebih rendah, tetapi Allah mau mengkat kita pada tingkat-Nya sendiri, dan pengaruh Aristoteles dalam pandangannya bahwa Allah adalah Dia yang menggerakkan segala sesuatu, tetapi yang sendiri tidak bergerak.[30]

 

Keberadaan Scholastik dan teolog-teolognya bukan tanpa hambatan, namun ada teolog-teolog lain yang menentang pendapatnya.  Johannes Duns Scotus seorang Fransiskan. Ia menentang scholastik khusunya Thomisme. Teologinya yang terkenal ialah “Ledakan Melawan Thomisme”. Thomas mengutamakan akal di atas kehendak. Sedangkan Duns menekankan keunggulan kehendak. Kehendak hanya mengikuti apa yang dinyatakan sebagai yang terbaik oleh akal. Oleh sebab itu kehendak Allah dapat dijelaskan melalui akal. Bagi Duns Kebebasan kehendak berarti bahwa kehendak tidak begitu saja mengikuti apa yang disuruh akal. Duns menekankan pada kebebasan Allah (tapi tidak semena-mena) bertentangan dengan Anselmus, bagi Anselmus inkarnasi dan salib Yesus mutlak perlu karena tak ada pilihan lain, tapi bagi Duns, inkarnasi terjadi karena Allah memutuskan agar itu terjadi.[31]

Selain Duns, William dari Okham,Seorang rahib Fransiskan yang dilahirkan di Surrey Inggris sekitar tahun 1285[32] salah seorang penentang Thomisme. Ia berupaya membongkar seluruh dasar akal budi Thomisme, ia berkata bahwa akal budi tidak bisa memasuki dunia Allah, oleh sebab itu manusia hanya dapat menggantungkan kepercayaan kepada kehendak Tuhan saja.[33] Baginya semua pengetahuan hanya didapatkan melalui pengalaman yang ditangkap oleh pancaindera, sehingga ia menekankan bahwa akal tidak mampu untuk sungguh mengerti apa yang ada, melainkan mengerti hanya apa yang nampak bagi dia.[34]  Ia berusaha memisahkan antara teologi dan filsafat, bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Thomas Aquinas. Baginya Allah tidak dipahami dengan akal, bukan juga karena penerangann tetapi hanya oleh iman. Seorang teolog hanya dapat bertumpuh pada penyataan Allah. Pada saat Okam melakukan ini maka berakhirlah sintesis antara iman dan akal budi; akal membatasi diri pada mempelajari alam sementara iman pada hal-hal yang berhubungan dengan Allah.[35]. Dengan demikian tidak ada titik temu antara iman dan akal. Dengan kata lain, Okham memahami bahwa akal tidak bisa digunakan untuk mengasihi Allah seperti dalam Matius 22:37.

b.      Teologi Mistikisme

Mistik atau yang dikenal dengan “kebatinan” di Indonesia, merupakan gejala yang ditemuakan dalam berbagai agama. Sejak semula, di bawah pengaruh lingkungan Yunani Romawi, terdapat juga mistik dalam Gereja Kristen. Teologi Origenes dan Augustinus dipengaruhi olehnya. Mistik Kristen di dasarkan tas Alkitab dan teologi Augustinus, tetapi terutama atas pandangan-pandangan filsafat Platonisme (dualistis dan asketis). Mistikisme Kristen berkembang khususnya di biara-biara.[36]. Gerakan mistik ini meyakini bahwa jiwa mereka sedang dalam kegairahan atau keinginan yang kuat agar jiwa mereka mengenal dan mengalami Tuhan secara langsung. Jiwa manusia yang bersifat ilahi, kembali ke asalnya. Di sini, mengalami Tuhan bukanlah soal akal, tapi soal orang yang dalam kerinduan yang kuat agar kemanusiaannya tenggelam dalam Allah. Tetapi Tokoh-tokoh mistik Kristen pada umumnya mempertahankan perbedaan antara Khalik dan makhlukNya: ketika kembali kepada Allah sekalipun, jiwa itu tetap tidak menjadi Allah sendiri. Jiwa harus menjauhi segala hal jasmaniah, tidak boleh menyibukkan diri dengan dunia, dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan tubuh sendiripun tidak. Sebab zat-benda (materi), tubuh, hal-hal dunia, tidak berharga sama sekali bila dibandingkan dengan jiwa itu sendiri dan hanya akan menghalangi jiwa itu kembali kepada Allah.[37]

Beberapa teolog yang dikenal sebagai teolog mistikisme anatara lain Bonaventura (1221-1274)[38] ia dijuliki “Prince of Mystic” oleh Pau Leo XIII karena menekankan teologinya pada Kesatuan dengan Kristus. Dalam sebua karyanya yang berjudul Perjalanan jiwa ke dalam Allah, ia menjelaskan bahwa hidup manusia untuk memperoleh iluminasi dari Tuhan dan hidup dalam kesatuan dengan Allah.[39] Sauatu peristiwa yang memberinya inspirasi untuk menulis Perjalanan Jiwa kedalam Allah ketika Bonaventura pada tahun 1259 menerima “Stigmata” (bilur-bilur Yesus) pada saat ia sedang bermeditasi ditempat Fransikus biasa bermeditasi. Ia mengatakan dalam tulisannya itu seperti yang dikuti :

Barangsiapa ingin mendaki kepada Allah, pertama-tama ia harus menghindari dosa yang merusak kita, kemudian melatih kekuatan pembawaannya seperti tersebut di atas: dengan berdoa agar mendapat kasih karunia yang memulihkan, dengan kehidupan yang baik agar mendapatkan keadilan yang menyucikan, dengan meditasi agar mendapatkan pengetahuan yang menerangi, dan dengan merenungkan agar mendapat kebijaksanaan yang menyempurnakan. Tidak seorang pun mencapai kebijaksanaan, kecuali anugerah, keadilan dan pengetahuan; demikian juga tidak seorang pun mencapai perenungan kecuali dengan jalan menembus meditasi, hidup suci, dan doa yang saleh (Itinerarium/Perjalanan 1:8)[40]

 

 

Selain Bonaventura, toko mistikisme yang lain ilah Mister Eckhart (1260-1327). Ia adalah seorang yang sangat berani berbicara mengenai persatuan jiwa dengan Allah sendiri. Menurutnya hanya Allah yang memiliki keberadaan, manusia sebenarnya tidak memiliki keberadaan tetapi karena manusia memiliki cetusan dari hakikat ilahi dalam dirinua yaoti hati nurani. Manusia perlu mengosongkan diri agar dapat menjadi sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya; harus kehilangan seluruh perhatian kepada apa yang tidak ada, suapa ia sendiri menjadi satu dengan Dia yang ada.[41] Sesudah itu wajiblah ia menempuh jalan penitensia (penebusan dosa) dan penyucian; dengan demikian akunya makin dimatikan sementara ia meniru teladan Kristus.[42] Manusia tidak bisa dibedakan lagi dengan Allah ketika manusia berada pada tingkat kesadaran dan persatuan yang tertinggi, ketika manusia begitu dekat dengan Allah.

3.      Teologi Modern

Secara konvensional, masa sejarah Teologi Modern ditarik dari akhir abad pertengahan yaitu abad 14 dan 15. Namun seorang sejarahwan Jerman yang hidu di abad 17 yang bernama Cellarius memiliki kriteria tersendiri dalam pembagian periode tersebut. Ia membagi perjalanan manusia dalam tiga periode, yaitu zaman purba, abad pertengahan dan bad modern. Dalam pembagian ini, ia memberikan beberapa catatan penting.[43]

-          Peristiwa kejatuhan Konstantinopel merupakan awal lahirnya dunia modern.

-          Di Italia, era baru lahir setelah Gereja melalui masa-masa gelap di abad pertengahan dan datangnya para cendekiawan Bizantium.

-          Lahirnya era baru juga ditandai dengan perluasan wilayah geografis melalui invasi kekuasaan.

-          Dalam ruang lingkup politik-sosial, era baru ditandai dengan adanya gerakan reformasi religius yang menantang Gereja dan kekuasaan Paus.

Teologi zaman modern yang terbentang antara bad 15 hingga abad 18 ditandai dengan lahirnya skisma di dunia Barat dan revolusi Perancis. Teologi zaman modern dibagi dalam 3 periode yaitu periode humanisme (abad 15), periode reformasi dan kontra-reformasi ( abad 16 ), periode sekularisme ( abad 17 hingga abad 18 ).[44] Era ini ditandai dengan terbentuknya banyak aliran gereja baru, dan lahirnya teolog-teolog dalam gerakan-gerakan baru sebagai bentuk refleksi terhadap baik situasi maupun pengajaran gereja pada saat itu.

3.a. Teologi Humanisme

Teologi humanistik meninggalkan warisan karya artistik, sastra, filosofis, dan teologis yang berharga. Namun, perlu dicatat bahwa kaum humanis mengartikulasikan kebenaran filosofis dan teologis ini yang berakar pada budaya negatif. Dua tokoh  Sejarah Gereja, A. Fliche dan V. Martin menilai bahwa: ¥Teologi abad  modern (XV) sungguh-sungguh tidak mengetahui prioritas masalah  yang dihadapi sehingga karya teologis mereka hanya memaparkan dan menegaskan kembali prinsip-prinsip tertinggi yang tidak bisa salah. Seluruh kerangka pikir mereka dimonopoli oleh persoalan-persoalan  aktual sehingga tidak tampak bahwa mereka adalah ilmuwan ulung  yang seharusnya tidak bergiat mencari, menyelidiki dan mengkontemplasikan aneka hal yang tidak menarik; mereka hanya mencari solusi untuk menyelesaikan aneka kasus yang sulit. Akibatnya, karya Teologi Modern ini sangat mengecewakan: Mereka  mempersiapkan jawaban yang tegas, tanpa dilandaskan pada pencarian  yang serius dan pembuktian yang mendalam.[45]  Kehadiran aliran humansisme sebenarnya tidak memberiakn pengaruh yang signifikan terhadap teologi, dan tidak fokus teradap teologi dan ilmu-ilmu yang lain, namun merupakan sebauh pergerakan budaya dan sastra. Kristeller mengatakan bahwa kehadiran aliran humanisme dalam sejrah manusia hanya sebagai pergerakan budaya dan sastra yang menaruh minat mendalam terhadap hal-hal klasik dan retoris. Bagi mereka, obat-obatan dan matematika tidak berkaitan langsung dan berada diluar pencarian mereka.[46] Aliran ini tidak menghasilakan sistem filosofis dan rumusan teologi yang baru serta tidak memiliki model filsafat dan teologi spekulatif. Meskipun aliran Humanisme anti terhadap metafisika, tetapi ada fenomena yang perlu diperhatikan dari teologi humanisme ialah usahanya untuk merangkul gagasan Aristoteles dan Thomas Aquino. Mengacu pada realitas ini, maka disimpulkan bahwa pergerakan dan perkembangan teologi abad 15 memiliki empat sasaran  dasar: Platonis, Occamista, Tomista dan Aristotelian.

Dalam karya teologis humanis diperkenalkan beberapa titik inovasi penting dengan respek yang mendalam terhadap kaum  skolastik, baik metode, sastra umum maupun media filosofisnya. Teologi kaum humanis, umumnya berbentuk diskursus dan eksposisi,  tanpa adanya artikulasi yang tetap. Sastra umum yang dihasilkan bukanlah summa atau komentar, melainkan traktat atau uraian bijak; sedangkan media yang dipergunakan dalam merumuskan wawasan teologis dan misteri iman Kristen adalah filsafat Plato yang sangat diminati manusia yang hidup di zaman ini.[47] Dari berbagai aspek teologi, teologi humanis beriorentasi pada dua makna progresif dalam perenungan mereka yaitu eklesiologi dan moral. Gagasab eklesiologi mereka di tolak karena tidak ditempatkan dalam rana ekumenis. Dalam rumusan eklesiologi, refelski teologis humanis menyajikan perenungan yang menyenangkan manusia, gagasan mereka tidak sejalan dengan makna ekumenis, dasar-dasar yang sudah ditetapkan konsili universal. Dalam kaitannya dengan moral, kaum humanis memusatkan perhatikan mereka gagasan yang ditetapkan dalam teologi dogmatik, yang berbeda dengan rumusan yang lain. Pada masa ini, para pemikir awam dan teolog kristen memusatkan perhatian mereka pada pribadi manusia, yaitu keterbatasan kemampuan, kebebasan dan martabat manusia, nilai dan kewajiban, peluang untuk memperoleh keselamatan kekal dan realisasinya di dunia. Sumbangan berarti dalam memperbaharui kehidupan moral manusia diberikan oleh kalangan agustinian (mengidupkan secara benar gagasan Platonisme) dan stoisisme.[48]

3.b. Teologi zaman reformasi.          

Reformasi berarti perubahan radikal untuk memperbaiki bidang politik, sosial atau keagamaan dalam suatu masyarakat atau negara. Dengan inovasinya Orang melakukan perubahan radikal untuk memperbaiki tatanan kehidupan dalam satu atau lebih bidang kehidupan. Diubah atau diperbarui adalah sistem, paradigma atau cara berpikir yang sangat mendasar. Di samping itu Perubahan berarti perubahan bentuk atau rupa. Dengan perubahan orang untuk mengubah penampilan atau bentuk, sifat, struktur atau fungsi sesuatu. Keduanya memiliki tujuan yang sama, untuk menjadi lebih baik. reformasi yang baik dan perubahan dilakukan untuk memperbaiki gaya hidup masyarakat dalam bidang politik, sosial, dan agama. Bahkan bisa diperluas juga untuk bidang kehidupan lain seperti ekonomi dan budaya.

Dalam sejarah kekristenan kita pun mengenal reformasi Gereja abad ke-16 yang terjadi di Eropa sebagai sebuah reformasi keagamaan. Hal-hal yang menjadi pemicu reformasi pada abad ke-16  adalah situasi kerohanian atau kegerejaa, maupun situasi sosial, politik, kebudayaan, dan bahkan ekonomi di Eropa pada masa itu eratkaitannya dengan reformasi Gereja yang dicanangkan Martin Luther[49] Reformasi Gereja pada abad 16 di Eropa bukan saja terjadi di Jerman melainkan menyebar susul- menyusul ke beberapa bagian lain seperti Swiss, Prancis, dan Inggirs dengan konteks berlangsungnya disetiap tempat tidak selalu sama.[50] Sedangkan Van den End penyebab timbulnya pembaharuan gereja adalah perbedaan antara teologi dan praktik gereja dengan ajaran Alkitan sesuai penemuan Luther. Sementara itu peristiwa yang memicu diadakannya reformasi dalam gereja adalah penjualan surat-surat penghapusan siksa oleh Tetzel di Jerman.[51] Persoalan utama dari reformasi gereja terletak pada teologi dan praktik Gereja, yang menurut Luthe, tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab.

Ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab adalah pendapat bahwa keselamatan manusia yang ditentukan gereja, dalam hal ini oleh Paus, dan untuk mencapainya orang harus berperan dalam bentuk kasih atau berbuat baik. Keselamatan tidak hanya bergantung pada kasih karunia Allah. Oleh karena itu, manusia tidak dapat bergantung hanya pada kasih karunia Allah dalam pencarian mereka akan keselamatan. Anugerah Allah dan usaha manusia berjalan seiring. Pelagius mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas keselamatannya sendiri dan karena itu harus berbuat baik jika ingin diselamatkan, dan kemudian mengabaikan Anugerah Allah, gereja Tradisional Roma memasukkan unsur anugerah Allah kedalam teologi dan pengajarannya. Ajaran ini kemudian disebut semi pelagius. Teologi dan doktrin gereja tentang keselamtan dengan demikian merupakan perpaduan dari pandangan Alkitabiah Agustinus dan pandangan tradisional Agustinus dan Pelagius.[52]

Sementara itu, praktik gereja yang menyimpang waktu itu tampak dalam bentuk penjualan surat-surat penghapusan siksa oleh Johann Tetzel. Menurut gereja, bila seseorang ingin selamat melintasi purgatorium (api penyucian) maka ia harus banyak berbuat amal kebaikan bagi gereja. Salah satunya adalah dengan membeli surat penghapusan siksa yang dijual pejabat gereja, sesuai dengan timbangan dosanya[53]. Jadi menurut Martin Luther, ajaran tentang keselamatan dan praktik gereja yang dilakukan pada masa itu, tidak sesuai ajaran ajaran Alkitab.

Selain ajaran keselamatan dan praktik gereja yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, ada penyebab-penyebab yang lain yang memicu terjadinya reformasi pada abad 16 salah satunya ialah situasi kerohanian dan kegerejaan dalam Gerej Tradisional waktu yang menimbulkan keresahan.Klaim supremasi Gereja yang meluas sampai bidang politik di seluruh Eropa olah Uskup atau Paus di Roma yang dimulai sejak abad , menimbulkan ketidaknyamanan dimana-mana.[54]  Gereja diperparah oleh perilaku para pejabat Gereja tidak hidup bergantung penuh kepada rahmat Allah, yang jauh dari kesucian dan kesalehan hidup. Mereka hidup bergeliamang kemewahan dan melakukan amoral. Sementara pelayanan dan pembinaan terhadap jemaat diabaikan dikarena anggapan bahwa setiap orang sudah menjadi anggota Gereja seara otomatis sejak lahir.[55]. Dalam ruang lingkup sosial-politik, terjadi pudarnya cita-cita memperssatukan semua orang Kristen di Eropa, dan munculnya semangat emansipasi politik di hampir semua Eropa, kecenderungan para raja yang tunduk kepada kaisar sebagai sekutu Paus serta bangkitnya semangat nasionalisme yang menekankan kesetaraan antar bangsa. Selain itu, dalam bidang kebudayaan dimana Renaisans yang tampil sejak abad 15 memberikan pengaruh yang besar. Renaisans mendorong orang untuk kembali ke kejayaan masa lampau di zaman kejayaan Yunani-Romawi. Untuk menenakankan kejayaan masa lalu tersbut, orang perlu menggali sumber-sumber yang asli lalu mengembangkannya secara baru. Semboyan yang terkenal untuk mengambarkan semangat ini adalah ad fontes yang berarti kembali ke dokumen-dokumen yang sah dari kekirstenan yaitu penulis-penulis patristis dan yang paling utama adalah Alkitab.[56]

Dalam pendekatan yang dilakukan Luther, ketika ia menemukan makna Roma 1:16-17 dalam perenungannya, yang mengubah dan mempengaruhi pandangan teologinya, ia memulai melaukan reformasi. Sebenaranya bukanlah sesuatu yang baru dalam pandanga teologinya, tetapi semangat Renaisans yang mendorong terhadap penggalian terhadap sumber-sumber yang asli dari Alkitab dan tulisan para patrisktik. Ia mendasarkan pandangannya pada Alkitab dan juga pengakuan bapa-bapa gereja. Tindakan yang ia lakukan antara lain memasang 95 dalil di depan pintu gereja di Universitas Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517.[57] Maksud dari dalil-dalin ini adalah sebagai sanggahan terhadap propaganda Tetzel dengan penjualan surat-surat penghapusan siksa. Isi dari dalil-dalil  tersebut menentang perkataan Tetzel bahwa surat-surat yang ditawarkannya itu menghapuskan dosa dan memperdamaikan manusia dengan Allah, yang menimbulkan kesan seakan-akan pengampunan dosa dan pendamaian  dapat dibeli dengan uang, tanpa penyesalan dan pertobatan, bahkan tanpa  sakramen. Sekaligus dengan itu Luther menegaskan bahwa penyesalan yang  sejati bukanlah perkara yang dapat seseorang bereskan dengan memenuhi  syarat yang ditentukan oleh imam setelah pengakuan dosa, seperti misalnya  mengucapkan doa Bapa Kami sekian banyak kali. Bagi Luther, penyesalan  dan pertobatan itu berlangsung sepanjang hidup.[58] Karena tindakan Luther tersebut yang meluas dengan cepat dan memberikan pengaruh yang besar, gereja Roma mengalami keguncangan, para raja dan bangsawan yang resa terhadap kepausan mendukung Luther, sehingga terjadilah pro dan kontra dimana-mana meresponi gerakan Luther tersebut.Meskipun ia disuruh mencabut tuntutan itu, tetapi Luther teta bersikukuh terhadap pendiriannya dan membela diri dengan berakata  “Di sini aku berdiri. Aku tidak dapat berbuat lain”.[59] Dalam pengadilan Luter dikutuk dan dianggap sesat tetapi pengaruh dari geraknnya terus meluas, disamping itu muncul kepermukaan gerakan yang  sudah lama terpendam yaitu gerakan yang dipelopori oleh Thomas Muenzer dan gerakan Anabaptis Radikal. Tokoh yang sama yang melakukan gerakan pada saat itu ialah John Calvin. Mereka berdua berkeinginan untuk memurnikan ajaran gereja. Selain gerakan reformasi oleh Marthin Luther, dan John Calvin teolog asal belanda, Huldrych Zwingli teolog dari Swiss yang setuju dengan Luther bahwa keselamatan hanya dengan Anugerah dan Kasih, John Knox, teolog asal scotlandia yang akhirnya mendirikan gereja presbiterian dan masih banyak gerakan-gerakan yang lain seperti gerakan Anglikanisme di Inggris.

 

3.Teologi Abad 20 dan Abad 21

        Setelah gerakan reformasi pada abad ke 16, gerakan pembaharuan terus terjadi, dan teologi terus mengalami perkembang. Sampai pada abad 20, teologi pada masa post modernisme berkembang dengan sebutan teologi kontemporer. Teologi kontemporer merupakan teologi yang melahirkan pemahaman-pemahaman yang selalu baru, meskipun kadang tidak diterima pada umunya. Teologi kontemporer, merupakan ilmu yang mempelajari Allah dimana ilmu itu berlangsung kini pada zamannya. Sumber utaman membangun teologi kontemporer adalah Alkitab dengan pemahaman yang kritis.

       Teologi kontemporer yang bermunculan di abad 20, merupakan reflesi terhadap situasi dan kondisi yang terjadi pada zamannya, umunya didasari oleh kondisi kemiskinan, diskriminasi dan kekerasan. Adapun teologi-teologi yang dikategrikan teologi kontemporer ialah teologi pembebasan yang muncul di Amerika yang dipelopori oleh Gustavo Guiterrez, sebagai refleski atas keadaan kemiskinan dan diskiriminasi yang dihadapi oleh masyarakat Amerika. Kemudian muncul teologi Hitam baik di Amerika maupun di Afrika yang memperjuangankan kesetaraan terhadap diskiriminasi yang dialami orang kulit hitam. Teologi Dalit yang muncul di India sebagai refleksi terhadap sistem kasta yang kuat di India yang menyebabkan kaum dalit mengalami penderitaan, selain itu, kemiskinan menjadi pemicu munculnya teologi ini. Muncul juga teologi feminis yang memperjuangkan kesetaraan perempuan dengan laki-laki, Sedangkan di Korea, muncul teologi minjung karena kemiskinan dan diskriminasi terhadap orang-orang kecil yang diabaikan oleh para penguasa. Dan beberapa teologi lagi yang terus berkembang seperti teologi kerbau, teologi pembangunan di Indonesia dan teologi akar rumput.

            Selanjutnya yang akan diperhatikan ialah perkembangan teologi di abad 21 atau teologi masa kini. Pada abad 21 ini, ajaran filsafat kembali mendapat ruang, menjadi titik tolak para tolog dalam membangun teologi. Ajaran filsafat pragmatisme, rasionalisme dan empirisme kembali mendapat tempatnya, manusia akan memiliki kecenderungan menyimpulkan segala sesuatu semata-mata bertitik tolak pada natur manusia yakni akal budi.[60] Kecenderungan ini disebut teologi imanensi.

            Kata imanensi berasal dari kata imanen dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti berada dalam kesadaran atau akal budi.[61] Sedangkan imanensi artinya prinsip pemberian bahasa sebagai sistem yang otonom, lepas dari faktor eksternal, seperti filsafat, sosiologi. Jadi secara harafiah kata imanen berarti tinggal didalam, tanpa dipengaruhi faktor dari luar. Seperti yang diuraikan Tom Jacobs bahwa imanen adalah salah satu sifat Alllah dimana Dia tidak hanya berada di atas sana dan terpisah dengan ciptaanNya (transenden) melainkan juga ada di dalam dunia meskipun tidak berasal dari dunia (imanen).[62] Allah yang transenden akan menjadi hilang dan akan masuk dalam kehidupan nyata manusia di dunia, keberadaan Allah akan masuk kedalam seluruh aspek kehidupan manusia. Daniel Lukito menegaskan hal yang sama bahwa ada kecenderungan teologi diabad 21 dibangun diatas imanensi. Akibatnya, Allah yang transenden itu menjadi hilang dan lebih  banyak menjelma di dalam kehidupan manusia di dunia. Keberadaan Allah  dianggap menyerap dan berbaur di dalam seluruh alam, peristiwa dan kehidupan  manusia.[63] Tentu teologi seperti ini sangat berbahaya karena akan mereduksi keberadaan Allah yang transenden  kehadalam pengalaman-pengalaman manusia yang cenderung disamakan dengan dunia nyata. Kemahakuasaan Allah tidak tidak akan pernah diterima dalam dunia modern ini karena dipengaruhi dengan cara berpikir dan produk-produk praktis yang akan memperkuat teologi imanen. Yang harus dipahami bahwa Allah tidak hanya imanen tetapi juga transenden, Allah yang supranatural juga menyatakan diri dalam ciptaannya. Penekanan teologi hanya pada imanensi akan membuat pekemabangan zaman menjadi sekulerdan semakin jauh dari kebenaran firman sebagai kebenaran yang hakiki.

            Disamping menguatnya teologi imanensi karena cara berpikir praktis yang menghilangkan sifat transenden Allah meletakkan Tuhan yang melebur dengan dunia, maka yang tidak boleh dilupakan ialah perkembangan teologi sekularisasi. Cara berpikir sekular akan mempengaruhi orang diabad 21 dimana akan dipisahkan secara radikal dan tegas antara hal-hal yang sekuler dengan yang rohani. Akibatnya “hal-hal yang sakral tersebut akan semakin terkunci di ruang yang paling pribadi dan dalam pengaruh yang makin dipersempit areanya.[64] Pengaruh sekularisme ini orang akan fokus memikirkan hal-hal sekuler dan mulai meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengan rohani, sehingga akan terjadi pergeseran pandangan terhadap iman kristen bahkan akan mengalami kemerosotan iman.

C.     Polarisasi dalam perkembangan teologi : Kritik Teologi dan Perdebatan

Sejak awal gereja berkembang, dan munculnya bapa-bapa gereja sebagai teolog mula-mula dalam membangun teologi melalui pengajaran dan tulisan-tulisan. Tidak serta diterima oleh teolog lain. Namun kalau diperhatikan polanya, pada abad permulaan dari abad 1 – abad 4, teologi sering dibangun karena adanya ajaran-ajaran sesat atau bidat yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran Firman, begitupun sebaliknya untuk merumuskan sebuah ajaran itu sesat ataua tidak bapa-bapa gereja asebagai teolog pendahulu akan merumuskan teologi yang berdasarkan pada firman. Misalnya doktrin tentang Tritunggal, yang dugunaka pertam kali olej Teofilus dari Antiokhia pada abad 2, ia mendefenisikan trinitas sebagai Allah, Firman-Nya dan Kebijaksanaan-Nya[65] Bapa-Bapa Gereja menegaskan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang sehakekat, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus sebagai satu dalam tiga pribadi ilahi. Ketiga Pribadi ini dapat dibedakan, tetapi sati dalam substansi atau kodrat.[66]  Rumusan ini dibuat untuk menyanggah ajaran Adopsionisme, Sabellianisme dan Arianisme. Adopsionisme merupakan keyakinan bahwa Yesus adalah seorang biasa, terlahir dari Yusuf dan Maria, yang menjadi Kristus dan Putra Allah saat Yesus dibaptis. Sabellianisme mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus secara esnsi satu dan sama, tetapi berbeda verbal, mendeskripsikan asppek-aspek atau peran-peran berbeda dari suatu hakikat tunggal, pandangan ini dianggap sebagai bidah dan Sabellius diekskomunikasi di Roma tahun 220. Sedangkan Arius mengajarkan bahwa Bapa telah ada sebelum putra yang menurut kodrat, bukan Allah tetapi seorang makhluk yang dapat berubah yang dianugerahi martabat menjadi Putra Allah.[67]

Karena bidah dan ajaran sesat yang muncul ini, mengakibatkan bapa-bapa gereja melakukan kanonisasi,merumuskan pengakuan iman dan  menetapkan uskup dalam Konsili yang diadakan mulai dari konsili Nicea, Nicea Konstantinopel, konsili di Efesus dan Konsili Khalsedon. Menghasilkan rumusan-rumusan dan pengakuan yang menjadi pedoman bagi gereja pada masa itu.

Pada masa reformasi, para reformator juga membangun rumusan teologi dan pengajaran karena adanya kesimpang siuran dalam gereja, gereja tidak lagi berdiri diatas kebenaran. Gereja memanupulasi pengumpulan unag untuk memperkaya diri melalui penjualan surat pengampunan siksa yang tidak sesuai kebenaran, dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam gereja, memicu munculnya para reformator, Marthin Luther dan John Calvin, Ulrich Zwingly dan tokoh-tokoh lain untuk memurnikan ajaran gereja. Namun dalam perkembanan reformasi ini, para reformator juga berdebat karena pandangan-pandangan teologinya, memicu munculnya banyak aliran dalam gereja.

Pada masa sekarang, teologi yang juga tidak sedikit yang memicu perdebatan dan menimbulkan kritik dari teolog lainnya. Seperti  yang terjadi baru-baru ini, dalam video pesan gembala Pdt, DR.Ir.Niko Njotorahardjo, yang diunggal dalam beberapa kanal Youtube, salah satunya adalah kanal yotube GBI Daan Mogot ( http://youtu.be/VA-Vp2cV_JQ ), ia meresponi tentang keaadan pandemi Covid-19, Pdt. Niko dalam penggalan video itu berkata bahwa “ Tuhan Yesus menyuruhnya untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yaitu dengan menghardik badai dengan berkata, “Diam..Tenanglah!. karena itu saya sekarang memerintahkan kepada Covid-19 dan kepada krisis ekonomi dengan berkata “ Diam…tenanglah!, dan mengajak jemaatnya untuk berdoa, karena kita memasuki peperangan rohani…”, kemudian video ini mendapat respon dari berbagai pihak. Salah satunya ialah Pdt, Steven Tong yang berkata bahwa “ ini semua adalah penghujatan, peniruan, pengcopyan  dari Anak Allah yang tidak boleh dan tidak ada copy nya, orang Indonesia yang begitu polos, begitu bodoh, begitu gampang ditipu, bangunlah…sadarlah…jangan lagi mau di tipu oleh pendeta-pendeta palsu, yang dari dahulu melalu keuangan menjadi perampok, dan melalui nubuat menjadi pengcopy Yesus yang palsu, bahkan dalam Video itu Pdt, Seteven Tong, menantang pendeta-pendeta utnuk mengadakan KKR di Istora Senayan atau Gelora Bung Karno, dan mengumpulkan orang-orang sakit yang terkena Covid, supaya disembuhkan, pergi ke Amerika untuk menghentikan 100 ribu orang yang meninggal”.  (https://youtu.be/mhegOifUbxY ).

Jika diperhatikan dengan saksama, Pdt. Niko mengklaim bahwa ia mendapat perintah langsung dari Yesus untuk melakukan hal yang sama yang Yesus pernah lakukan. Seolah-olah bahwa Pdt. Niko mendapatkan konfirmasi langsung bahwa covid-19 bisa diberhentikan melalui nubuatan dan perintah yang disampaikannya. Ia juga mengajar jemaatnya untuk masuk dalam peperangan rohani yang begitu dasyat dan mengajak supaya memerintahkan covid dan krisis ekonomi untuk diam dan tenang.

Tanggapan dari Pdt. Steven Tong, begitu keras, menegaskan bahwa apa yang dilakuakan Pdt, Niko adalah sebuah penyesatan, tidak boleh ada peniruan dan pengcopyan terhadap Yesus. Ia juga mengajar orang Indonesia supaya sadar, jangan mudah dibodohi, jangan mudah ditipu oleh ajaran pendeta palsu. Bahkan dalam potongan video tersebut, Pdt, Steven Tong itu adalah ajaran yang palsu.

Tanggapan tersebut, tidak berhenti sampai disitu tetapi mendapat respon balik dari hamba-hamba Tuhan yang membela Pdt. Niko, salah satunya ialah Pdt, Joshua Tewuh. Kemudian muncul juga pengajaran dari Pdt. Dr. J. Putratama Kamuri,M.Th, dalam kanal Youtube GRII Depok, dengan judul video MENANGGAPI KRITIK PADA KRITIK PDT STEPHEN TONG VS PDT NIKO: MENGAPA GEREJA BERDEBAT? (https://youtu.be/J-saERgBgUM ), menyoroti orang-orang yang berkata bahwa kenapa harus berdebat. Pdt. Putratama Kamuri, menegaskan bahwa gereja harus berani menyuarakan kebenaran, gereja harus melawan penyesatan. Ia mengambil contoh dari Kitab Yudas, bagaimana jemaat diajar untuk berdiri diatas kebenaran dan melawan penyesatan. Pemimpin yang kritis dibutuhkan oleh gereja untuk mengkritik ajaran-ajaran yang menyimpang yang tidak sesuai kebenaran Firman. Dan perdebatan adalah hal yang tidak harus dihindari oleh gereja.

Pola teologi yang terjadi pada saat ini, yang dibangun dan diajarkan dalam konteks budaya yang dipengaruhi globalisasi, gereja atau seseorang dapat meng-upload ajarannya melalui media, dan dengan mudah diakses oleh siapa saja. Pola ini akan menimbulkan dua respon, ada yang setuju dan menerimanya, tetepi ada yang menolaknya. Orang yang menolak sebuah ajaran terdiri ada dua kelompok, ada yang menolak tetapi diam, namun ada yang menolak tetapi bereaksi dan mendebat atau cenderung untuk menyerang balik. Secara khusus konten-konten pengajaran teologi yang mewarnai perkembangan teologi saat ini, dapat dengan mudah ditemukan perdebatan-perdebatan baik itu antar teolog Kristen, maupun perdebatan dengan teolog-teolog agama lain. Dan tidak sedikit yang membuat video serangan balik atas nama apologetika iman.

 

Bab III

Penutup

1.      Kesimpulan

Menggali sejarah perkembangan teologi adalah hal yang sangat menarik. Perkembangan teologi abad permulaan,dipengaruhi oleh budaya Yunani-Romawi, dengan pengaruh filsafat yang begitu kuat. Munculnya ajaran-ajaran sesat dan bidah dia abad permulaan ini, memicu munculnya teolog-teolog dengan karya-karya yang dituangkan dalam tulisan, bahkan memiliki pengaruh sampai sekarang. Pada abad permulaan, ajaran-ajaran sesat dan bidah memicu diadakannya Konsili Ekumenis 1 sampai konsili  Ekumenis 7.

Pada abad pertengahan, teologi yang berkembang adalah teologi scholastik, teologi yang berkembang di sekolah-sekolah, dan memberikan pengaruh yang sangat baik terhadap pendidikan di Eropa. Para biarawan terus belajara melalui tulisan-tulisan yang berkembang sebelumnya. Pada masa reformasi, muncul gerakan teologi dari para reformator karena ajaran gereja dan praktik gereja yang tidak sesuai dengan kebenaran. Perdebatan-perdebatan yang terjadi diantara reformator pun memicu munculnya berbagai aliran falam gereja. Pada abad 20 dan abad 21, muncul teologi yang disebut teologi kontemporer, sebagai reaksi terhadap situasi agama, sosial-politik, dan budaya yang berkembanga. Sedangkan diabad 21, teologi berkembang dalam pengaruh sekularisme yang mempengaruhi pola pikir praktis yang menyebabkan kemunduruan iman.

Namun yang perlu diperhatikan adalah, dalam setiap tahap teologi ini,Selalu diwarnai dengan perdebatan atau kritik antar teolog. Pandangn teolog yang satu belum tentu diterima oleh teolog yang lainnya. Kritik dan saling serang merupakan hal yang begitu dekat dengan teologi. Perdebatan yang membangun sangat penting dalam perkembangan teologi, untuk memurnikan, menajamkan suatu paham teologi, dan sikap kritis terhadap penyimpangan dalam teologi juga sangat diperlukan. Seorang yang menyampaikan pendapat, gagsan,ikut dalam perdebatan, dan menyampaikan kritik tentang teologi, haruslah menyadari bahwa ia seorang teolog, yang harus terus mengembangkan teologi sesuai dengan tuntutan zaman yang dibangun atas kebenaran Firman Tuhan.

2.      Saran

Dalam penyusunan makalah ini, tentu banyak kekurangan disana-sini, maka diperlukan kritik dan saran, bahkan penyempurnaan terhadap makalah ini melalui penelitain selanjutnya. Harus disadari bahwa, tidak ada teologi yang sempurna. Tentu masing-masing teologi memiliki kekurangan dan celah untuk diperdebatkan bahkan dikritik orang lain. Sebagai teolog, harus membuka diri untuk dikritik, dan menerima masukan dari orang lain. Sikap kritis diperlukan untuk saling membangun bukan untuk menjatuhkan. Dan jika terjadi kekeliruan dalam sebuah pandangan sebaiknya diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepustakaan

"Arianism" in Cross, F.L. & Livingstone, E.A. (eds) The Oxford Dictionary of the Christian Church (1974)

A Fliche  dan V. Martin, Storia dellam Chiesa, XIV/2, Torino 1971

Agustinus M.L. Batlajery.  Buku Penghornatan Prof.Dr. Samuel Benyamin Hakh

Alister C McGrath, Alister (terj.) Sejarah Pemikiran Reformasi., Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997

Aritonang, Jan S. 2007. Garis Besar Sejarah Reformasi.Bandung: Jurnal Info

Aritonang, Jan S. 2016. Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja.

Battista Mondin, Storia della Teologia

Battista Mondin, Storia della Teologia, Edizioni Studio Domenicani, Bologna 1996

Daniel Lukas Lukito, “Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21 – Sebuah  Kajian Retrospektif dan Prospektif” dalam Jurnal Teologi dan Pelayanan VERITAS, I No 1, April 2000, halaman 3-6.

Definition of the Fourth Lateran Council quoted in Catechism of the Catholic Church, 253

Dieter Kuhl, Diktat Sejarah Gereja jilid II, Malang: Institut Injili Indonesia

Dieter Kuhl, Diktat Sejarah Gereja jilid II, Malang: Institut Injili Indonesia, 1983

End, Th. Van den. 1982. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja , Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003

F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003 A. Heuken SJ, Ensiklopedi Orang Kudus dari A sampai Z, t.t: Yayasan Cipta Loka Caraka

  H. Berkhof, Sejarah Gereja , Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2007

H. Berkhof, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2007

Jakarta: BPK Gunung Mulia

Louis Berkhoft, Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, Dit. oleh Yudha Thianto. Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993

McGrath, Alister C. 1997. Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.), Jakarta: BPK Gunung Mulia

Media.

  Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 2006

Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 2006

P.O. Kristeller, “Umanismo e Filosofia nel Rinascimento Italiano”, ini Umanisme e Scienza Politica, Milano 1953, 509

Runtut Pijar , Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001

Sonny Eli Zaluchu, “Mengkritisi Teologi Sekularisasi,” Kurios 4, no. 1 (2018)

T. Salurante, Sejarah Gereja, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, November 2020

Th. Vaan den End. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Theophilus, Apologia ad Autolycum, Book II, Chapter 15

Tom Jacobs, SJ, Paham Allah Dalam Filsafat, Agama-agama dan Teologi(Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002), 77-79.

Tony Lane Runtut Pijar, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001

  Van Den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986

Van Den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986

Y. Tomatala, Teologi Kontekstualisasi: Suatu Pengantar, Malang: Gandum Mas, 1993

 

 

Jurnal dan Internet

https://www.17-minute-languages.com/id/kamus-bahasa-yunani/

https://kbbi.kemdikbud.go.id/teologi

https://totabuan.news/sejarah/sejarah-gereja-di-abad-pertama/ diakses 1 Desember 2022

Jefry Wungow ; Artikel Teologi STT Yestoya ; https://stt-yestoya.ac.id/2019/11/06/teologi-dan-kesalehan-abad-pertengahan, diakses 1 Desember 2022

Sonny E.Zaluchu, Jurnal Teologi : Perkembangan Teologi Kristen di Dekade Pertama Abad XX1, https://osf.io/2tybs/download. Diakses 2 Desember 2022

https://doi.org/https://doi.org/10.30995/kur.v4i1.31.

https://youtu.be/mhegOifUbxY

http://youtu.be/VA-Vp2cV_JQ

https://youtu.be/J-saERgBgUM



[1] https://www.17-minute-languages.com/id/kamus-bahasa-yunani/

[2] https://kbbi.kemdikbud.go.id/teologi

[3] Louis Berkhoft, Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, Dit. oleh Yudha Thianto  (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), 7.

[4] Y. Tomatala, Teologi Kontekstualisasi: Suatu Pengantar (Malang: Gandum Mas, 1993), 2-3.

[5] Battista Mondin, Storia della Teologia, Edizioni Studio Domenicani, Bologna 1996, hlm. 7.

[6] T. Salurante, Sejarah Gereja, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, November 2020

[8] Ibid

[9] T.Salurante, Op. Cit. 138

[10] Idem.hlm.140

[11] Idem.hlm.140

[12] Ibid. hlm.238

[13] Jefry Wungow ; Artikel Teologi STT Yestoya ; https://stt-yestoya.ac.id/2019/11/06/teologi-dan-kesalehan-abad-pertengahan, diakses 1 Desember 2022

[14] Idem

[15] Idem

[16] Van Den End, Harta Dalam Bejana ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), hlm. 135

[17] H. Berkhof, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2007), 102

[18] Jefry Wungow ; Artikel Teologi STT Yestoya ; https://stt-yestoya.ac.id/2019/11/06/teologi-dan-kesalehan-abad-pertengahan, diakses 1 Desember 2022

[19] Berkhof, loc.cit.

[20] Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru [Malang: Gandum Mas, 2006], 92-93)

[21] Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), x

[22] Dieter Kuhl, Diktat Sejarah Gereja jilid II, Malang: Institut Injili Indonesia, 1983

[23] Idem

[24] Jefry Wungow ; Artikel Teologi STT Yestoya ; https://stt-yestoya.ac.id/2019/11/06/teologi-dan-kesalehan-abad-pertengahan, diakses 1 Desember 2022

[25] Berkhof, op.cit., 102-103

[26] Lane, op.cit., 90

[27] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 13

[28] Wungow.Op.cit

[29] Lane. Op.cit.104

[30] End, Op. cit.,138

[31] Lane,op.cit.,109

[32] Dieter Kuhl, Diktat Sejarah Gereja jilid II, Malang: Institut Injili Indonesia, 1983., 61

[33] Berkhof, op.cit

[34] Kuhl,Op.cit.,63

[35] Lane Op.cit., 111

[36] Berkhof, op.cit.,109

[37] Berkhof, op.cit.,109

[38] Wellem,op.cit.,40

[39] Kuhl, op.cit.,56

[40] Lane, Op.cit.103

[41] End, op.cit.148

[42] Berkhof, op.cit.,110

[43] Battista Mondin, Storia della Teologia,.hlm.7.

[44] Ibid, hlm.8.

[45] A. Fliche  dan V. Martin, Storia dellam Chiesa, XIV/2, Torino 1971, 635.

[46] P.O. Kristeller, “Umanismo e Filosofia nel Rinascimento Italiano”, ini Umanisme e Scienza Politica, Milano 1953, 509

 

[47] Battista Mondin, op.cit.hlm.28

[48] Alfonsus Ara, jurnal teologi : Periodisasi dan Karakter Teologi Zaman Modern: https://media.neliti.com/media/publications/282693-periodisasi-dan-karakter-teologi-zaman-modern.pdf

[49] Jan S Aritonang Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2016 )., hlm.26

[50] Jan S Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi. Bandung : Jurnal Info Media

[51] Th. Vaan den End. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia

[52] Ajaran Pelagius tentang keselamatan dapat dibaca dalam buku Gagasan Yang Menjadi Peristiwa (Eddy Kristiyanto, 2002: 101-110); dan buku Sejarah Gereja yang khusus membahas pertikaian antara Pelagius dan Augustinus (Berkhof & Enklaar, 1986: 67-70).

[53] Jan S Aritonang, Op.Cit. hlm.29

[54] Agustinus M.L. Batlajery.  Buku Penghornatan Prof.Dr. Samuel Benyamin Hakh, hlm 7

[55] Aritonang, Op.cit. hlm.29

[56] Alister C McGrath, Alister (terj.) Sejarah Pemikiran Reformasi., (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997),hlm.57

[57] Dibaca dalam buku Agustinus, Pengakuan-pengakuan, ( Agustinus,1997)

[58] Aritonang 2007, op.cit. 20

[59] Aritonang 2016, Op.cit. 36

[60] Sonny E.Zaluchu, Jurnal Teologi : Perkembangan Teologi Kristen di Dekade Pertama Abad XX1, https://osf.io/2tybs/download. Diakses 2 Desember 2022

[62] Tom Jacobs, SJ, Paham Allah Dalam Filsafat, Agama-agama dan Teologi(Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002), 77-79.

[63] Daniel Lukas Lukito, “Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21 – Sebuah  Kajian Retrospektif dan Prospektif” dalam Jurnal Teologi dan Pelayanan VERITAS, I No 1, April 2000, halaman 3-6.

[64] Sonny Eli Zaluchu, “Mengkritisi Teologi Sekularisasi,” Kurios 4, no. 1 (2018): 26– 38, https://doi.org/https://doi.org/10.30995/kur.v4i1.31.

[65] Theophilus, Apologia ad Autolycum, Book II, Chapter 15

[66] Definition of the Fourth Lateran Council quoted in Catechism of the Catholic Church, 253

[67] "Arianism" in Cross, F.L. & Livingstone, E.A. (eds) The Oxford Dictionary of the Christian Church (1974)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus