Refleksi Teologis Penerapan Persembahan Persepuluhan dalam konteks Gereja masa kini

 

Refleksi  Teologis Penerapan Persembahan Persepuluhan

dalam konteks Gereja masa kini

Oleh : Naysalmin Lumbaa, M.Th


Pendahuluan

Persembahan persepuluhan masih menjadi perbincangan yang hebat sampai saat ini dikalangan hamba-hamba Tuhan maupun jemaat. Bahkan sering memicu perdebatan sesama hamba Tuhan. Ada kelompok yang mengajarkan bahwa persepuluhan sudah tidak lagi relevan diterapkan dalam gereja masa kini, karena itu adalah bagian dari Taurat, lantas hukum Taurat tidak lagi berlaku bagi orang percaya, melainkan harus mengikuti hukum Kristus. Kelompok yang lainnya mengajarkan bahwa persembahan persepuluhan masih relevan diterapkan dalam gereja masa kini, dengan dalih bahwa jemaat harus mendukung pekerjaan Tuhan sesuai firman Tuhan dalam Maleakhi 3:10.

Penerapan persembahan persepuluhan kadangkala menimbulkan keluhan  jemaat. Ada yang terpaksa memberikan persepuluhan karena takut dan terintimidasi dengan perkataan gembalanya ( terkesan seperti kutukan bagi jemaatnya ) bahwa jika tidak memberi pesepuluhan maka ada “belalang pelahap” yang akan mencuri berkat Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Sehingga jemaat memberi persembahan bukan karena pemahaman yang benar, tetapi karena ada rasa takut akan “belalang pelahap”. Disisi yang lain, ada jemaat yang menjadi kecewa dan tidak lagi memberikan persembahan persepuluhan karena melihat adanya penyimpangan atau penyalahgunaan persembahan persepuluhan. Dengan  melihat kehidupan gembala dan keluarganya yang serba hedonisme sementara jemaatnya banyak yang hidup dalam kesederhanaan, mengalami kesulitan ekonomi, tidak bisa membayar uang sekolah anaknya, namun gereja tidak memiliki program yang menjangkau jemaat yang kurang mampu.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka beberapa pertanyaan perlu diajukan. Apakah persembahan persepuluhan masih relevan di laksanakan dalam gereja masa kini?, bagaimana padangan alkitab terhadap persembahan persepuluhan dan bagaimana penerapannya?, apa makna teologi dari persembahan persepuluhan?, bagaimana gereja mengelola persembahan persepuluhan dengan benar ?, bagaimana konsep memberi yang seharusnya diajarkan kepada jemaat?.  Pertanyaan tersebut akan dijawab bedasarkan kajian biblis teologis.

 

Persembahan Persepuluhan Dalam Perjanjial Lama

Latar belakang persembahan persepuluhan di Alkitab dipengaruhi budaya-budaya timur tengah yang sudah lumrah terjadi pada zaman Abraham. Ketika Abraham terlibat dalam pertikaian dengan raja-raja di Timur, peperangan yang tak terhindarkan harus dilalui oleh Abraham, apalagi ketika keponakannya Lot di tawan oleh raja-raja itu. Abraham pergi berperang dan menyelamatkan Lot anak saudaranya itu serta membawa harta benda rampasan dari medan perang. Setelah kembali dari medan perang mengalahkan Kedarlomer dan para raja yang bersama dengan dia, maka keluarlah Melkisedek, raja Salem membawa roti dan anggur dan menyambut Abraham dan prajuritnya di lembah Raja yaitu lembah Syame. Setelah Melkisedek memberkati Abraham dan memberikan roti dan anggur kepada Abraham dan para prajuritnya, Abraham memberikan sepersepuluh dari harta benda rampasan kepada Melkisedek ( Kejadian 14:17-20).

Sepersepuluh yang diberikan oleh Abraham adalah ungkapan syukur atas kebaikan hati Melkisedek kepadanya. Mattew Hendry menuliskan bahwa pemberian sepersepuluh yang diberikan Abraham merupakan rasa syukur yang disampaikan kepada Melkisedek dan balasan atas tanda penghormatan yang diberikannya. Rasa syukur adalah salah satu hukum alam, sehingga pada zaman itu, sudah menjadi budaya memberikan persembahan kepada orang-orang yang memberikan kebaikan, seperti yang dilakukan Melkisedek kepada Abraham sehingga Abraham memberikan sepersepuluh dari apa yang dia sudah dapatkan.

Memberikan persepuluhan kemungkinan besar menjadi tradisi turun temurun dalam keluarga Abrahan sehingga tradisi itupun sampai kepada  Yakub. Meskipun dengan memperhatikan konteksnya ada perbedaan. Jika Abraham memberikan sepersepuluh kepada Melkisedek sebagai ucapan syukur atas kebaikannya kepada Abraham, atas apa yang sudah dialaminya, sedangkan Yakub bernazar akan selalu memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang Tuhan berikan kepadanya jika Tuhan menyertai dan melindunginya dalam perjalanan, dan memberikan makanan dan pakaian selama dalam perjalanan hingga selamat kembali ke rumah ayahnya yaitu Ishak. Yakub mengalami perjumpaan dengan Tuhan, sehingga ia mendirikan tugu bahkan menamai tempati itu rumah Allah. Dalam perjalanan Yakub, selanjutnya, ia mengalami banyak sekali keberhasilan, ia diberkati memiliki banyak harta benda. Alkitab tidak menuliskan apakah Yakub memberikan sepersepuluh kepada Tuhan, dan dengan cara bagaimana ia memberikannya kepada Tuhan, tetapi apa yang ia sudah nazarkan pasti ia lakukan. Yakub sering sekali mendirikan mezbah dan beribadah kepada Allah bersama dengan keluarganya, dan persembahan persepuluhan kemungkinan ia berikan dalam ibadah-ibadah tersebut.

Hukum persembahan persepuluhan ditetapkan oleh Tuhan melalui musa kepada bangsa Israel setelah mereka keluar dari Mesir, tempat mereka diperbudak. Bangsa Israel hanya mengenal aturan-aturan Mesir yang tidak menuntun mereka kepada Allah. Sehingga Allah memberikan mereka aturan atau hukum yang mereka harus jalani sebagai umat pilihan Allah. Aturan atau hukum atau ketetapan yang Tuhan berikan kepada mereka terbagi dalam tiba bagian secara umum. Hukum moral, hukum seremonial dan hukum Yudisial. Hukum moral mengatur moral, etika, sikap dan perilaku bangsa Israel baik dalam perjalanan menuju tanah perjanjian dan sekaligus menjadi aturan turun temurun yang harus diajarkan kepada anak-anaknya. Hukum seremonial mengatur tatacara beribadah dan memberikan korban-korban kepada Allah. Hukum yudisial untuk menegakkan keadilan ditengah-tengah umat Israel, jika ada yang melanggar aturan yang ditetapkan Tuhan maka ada sanksi atau hukuman yang mereka harus terima.

Memberikan persembahan persepuluhan tidak hanya merupakan bagian dari hukum seremonial atau tatacara beribadah kepada Allah, tetapi juga mengandung hukum moral. Hukum ini tidak hanya mengajarkan bagaimana umat Israel berbakti kepada Tuhan, memberikan persembahan kepada Allah, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab dalam mengelola berkat yang Tuhan percayakan, mengajarkan kejujuran dan ketaatan kepada Tuhan, mereka belajar memberikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Ini membutuhkan keterbukaan dan kejujuran dihadapan Tuhann serta tanggung jawab. Menuntut kerelaan untuk memberikan persembahan dari apa yang sudah dimiliki.

Beberapa aturan persepuluhan yang Tuhan tetapkan kepada bangsa Israel antara lain:

1.      Objek yang dipersembahkan

Objek yang dipersembahkan bangsa Israel sebagai persembahan persepuluhan ialah hasil tanah dan hewan ternak.

a.      persembahan persepuluhan dari hasil tanah ( Imamat 27:30 )

Persembahan persepuluhan yang diberikan berupa hasil tanah yaitu sayur-sayuran atau umbi-umbian dan juga buah pohon-pohonan dapat dijadikan persempahan persepuluhan. Tetapi jika seseoarang mau menebus persembahan sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima.

b.      Persembahan persepuluhan dari hewan ternak ( Imamat 27: 32)

Hewan yang ternak yang dapat dipersembahkan sebagai persembahan persepuluhan ialah lembu sapi atau kambing domba. Setiap yang lewat dibawah tongkat gembala waktu dihitung, pada hitungan yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan. Aturannya jelas bahwa pada hitungan kesepuluh harus dikhususkan bagi Tuhan, tidak boleh dipilih mana yang baik dan mana yang buruk, tidak boleh ditukar, tapi jika ada yang menukarnya maka hewan itu dan hewan tukarnya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus.

 

2.      Hukum Persembahan persepuluhan diberikan kepada Orang Lewi dan kewajibannya ( Bilangan 18:21,24,26, 28)

Persembahan persepuluhan yang diberikan seluruh orang Israel  diberikan kepada bani Lewi untuk membalas pekerjaan yang mereka lakukan sebagai orang-orang khusus yang melayani di kemah pertemuan. Persembahan persepuluhan itu menjadi persembahan yang diberikan kepada orang Israel sebagai milik pusakanya seperti yang Tuhan firmankan “mereka tidak akan mendapat milik pusaka ditengah-tengah orang Israel” (Bil. 18:24). Orang Lewi yang telah menerima persepuluhan dari suku-suku lain, haruslah mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan, sebagai persembahan persepuluhan. ( Bil. 18:26). Persembahan persepuluhan orang Lewi tu diserahkan kepada imam Harun ( Bil. 18:28).

3.      Hukum persembahan persepuluhan di tanah perjanjian ( Ulangan 12 )

Tuhan memberikan ketetapan kepada bangsa Israel untuk melakukan ketetapan atau perintah Tuhan dengan setia selama hidup di muka bumi. Orang Israel harus beribadah di suatu tempat yang akan dipilih Tuhan sebagai tempat kediaman Tuhan dan tempat untuk menegakkan nama-Nya ( Ulangan 12:5-6). Orang Israel harus membawa persembahan persepuluhan bersama dengan persembahan yang lain dan berbagai korban sesuai ketetapan Tuhan dari anak-anak sulung lembu sapi dan kambing domba. Persembahan dan korban tersebut dimakan di hadapan Tuhan dengan sukaria bersama dengan keluarga dan seisi rumahnya yakni anak-anaknya, hamba-hambanya, serta orang Lewi yang bersama dengan mereka. Orang Israel melakukan demikian sebagai ucapan syukur atas berkat Tuhan atas segala usaha mereka ( Ul 12:7,11,12 ). Persembahan persepuluhan tidak boleh dimakan dirumah sendiri, tetapi dimakan bersama dihadapan Tuhan di tempat yang akan dipilih Tuhan. Tetapi ada pengecualian jika tempat yang dipilih Tuhan terlalu jauh maka orang itu diperbolehkan memakan persembahannya di tempatnya sendiri ( Ul 12: 21).

a.      Persembahan persepuluhan tahunan

Persembahan persepuluhan yang ditetapkan Tuhan dapat dipersembahkan dari hasil perkebunan dan peternakan tahun demi tahun ( Ul 14:22). Persembahan persepuluhan dari gandum, anggur, minyak, dan anak lembu sapi dan kambing domba harus dimakan di tempat yang Tuhan pilih untuk membuat nama-Nya diam disana. Tetapi jika tempat yang dipilih Tuhan terlalu jauh maka persembahan persepuluhan itu diuangkan dan pergi ketempat yang dipilih Tuhan untuk membeli apa saja yang disukai hatinya seperti lembu spi, kambing domba, anggur atau apa saja yang disukai, setelah itu harus dimakan dihadapan Tuhan dengan sukaria bersama dengan seisi rumahnya, juga orang Lewi yang bersama dengan mereka tidak boleh diabaikan, tetapi ikut makan bersama dengan orang tersebut.

b.      Persembahan Persepuluhan Tiga Tahun

Setiap akhir tiga tahun, orang Israel harus mengambil persembahan persepuluhan dari hasil tanah dan menaruh dalam kota. Persembahan ini diperuntukkan bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda yang ada bersama-sama dengan orang Israel. Mereka datang untuk makan bersama-sama. Janji Tuhan bagi bangsa Israel bahwa Tuhan akan memberkati dalam segala usaha yang dikerjakan tangannya.

            Praktik persembahan persepuluhan dilakukan bangsa Israel turun temurun sebagai bagian dari hukum atau ketetapan seremonial mereka, untuk selalu mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka miliki adalah pemberian Tuhan, supaya mereka selalu hidup takut akan Tuhan ( Ul 14:23). Orang Israel juga belajar untuk memiliki kepedulian kepada orang-orang Lewi yang tidak mendapat milik pusaka mereka, karena milik pusaka mereka adalah Tuhan. Orang Israel memberikan perhatian kepada orang-orang miskin, orang asing, anak-anak yatim dan para janda yang ada ditempat mereka.

            Tuhan kembali mengingatkan bangsa Israel akan persembahan persepuluhan setelah kembali dari pembuangan ( Maleakhi 3:8-10). Tetapi dalam konteks ini harus dilihat dengan seksama. Tuhan sedang memulihkan kehidupan rohani bangsa Israel, dijauhkan dari segala berhala-berhala dan segala kecemaran lainnya. Tuhan menginginkan supaya mereka kembali kepada Tuhan, karena orang Israel sudah menyimpang dari ketetapan-Nya. Tuhan marah kepada bangsa Israel karena mereka menipu Tuhan melalui persembahan persepuluhan dan persembahan khusus. Bangsa Israel tidak peduli pekerjaan Tuhan, tidak peduli akan keperluan dirumah Tuhan, mereka tidak lagi memberikan persembahan.

            Ayat ini menjadi ayat mas gereja masa kini dalam penerapan persembahan persepuluhan. Para pengkhotbah menyampaikan supaya memberikan perpuluhan supaya tingkap-tingkap langit dibukakan dan Tuhan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Tidak sedikit juga yang menggunakan ayat selanjutnya sebagai ancaman bahwa jika tidak memberikan persepuluhan maka belalang pelahap akan menghabisi hasil tanah mereka. Tidak boleh dilupakan bahwa sejarah perjalan bangsa Israel membuktikan,  yang menyebabkan bangsa Israel kena tulah bukan karena tidak memberi persembahan persepuluhan, tetapi karena mereka memberontak kepada Tuhan. Mereka meninggalkan Tuhan, dengan beribadah kepada allah lain. Mereka menyakiti hati Tuhan dengan perbuatan jahat mereka. Ayat ini harus dilihat sebagai teguran Tuhan supaya mereka kembali kepada Tuhan.  penekanannya bukan hanya soal ritual dan persembahan tetapi Tuhan fokus kehidupan rohani bangsa Israel, Tuhan menginginkan mereka kembali beribadah kepada Tuhan dan melakukan ketetapannya. Tuhan mengajarkan mereka supaya mereka membangun kepercayaan bahwa Tuhan mampu memelihara hidup mereka, sehingga mereka tidak perlu takut untuk memberikan persembahan persepuluhan, supaya ada persediaan makanan di Rumah Tuhan, sebagai bentuk perhatian Tuhan bagi hamba-hambanya yang melayani di rumah Tuhan. Kehidupan rohani orang Israel yang bertumbuh akan diikuti dengan kerelaan dan kepedulian umat Tuhan akan pekerjaan-Nya.

Persembahan Persepuluhan Dalam Perjanjian Baru

            Perjanjian Baru tidak membahas persembahan persepuluhan secara khusus dan secara rinci seperti Perjanjial Lama. Matius 23:23 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Lukas 11:42 “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Kedua ayat ini memberikan informasi bahwa persembahan persepuluhan pada jaman Tuhan Yesus, masih dilakukan. Aturan memberi persepuluhan yang bangsa Israel lakukan saat itu berpegang pada aturan-aturan yang ada dalam Perjanjian Lama. Persembahan persepuluhan diberikan dari hasil tanah.

            Ada beberapa hal yang menarik dari reaksi Tuhan Yesus berkaitan dengan membayar pesepuluhan. Pertama, Tuhan Yesus tidak memberikan larangan atau perintah mengenai persembahan persepuluhan. Kedua, Tuhan Yesus menyebut orang-orang Farisi celaka karena mereka mengabaikan kasih dan keadilan. Reaksi Tuhan Yesus ini memberikan penegasan bahwa dalam menjalankan hukum Allah tidak boleh hanya melakukan sebagian dan mengabaikan bagian lain. Harus melakukan perintah Allah secara keseluruhan. Tuhan Yesus juga mau menegaskan bahwa hidup agama bukan hanya soal seremonial semata, tetapi yang terpenting ialah melakukan dengan kasih kepada Allah, disertai motivasi yang benar bukan untuk menyombongkan diri seperti yang dilakukan orang-orang Farisi ( Lukas 18:11-12). Orang Farisi memberikan persepuluhan membuat mereka bersifat angkuh dan merendahkan orang lain. Mereka merasa sempurna dalam melakuan hukum tetapi justru di cela oleh Tuhan Yesus karena mereka tidak punya keadilan dan kasih kepada sesama.

Refeleksi Teologis Persembahan Persepuluhan

Jika memperhatikan hukum atau ketetapan Tuhan mengenai persembahan persepuluhan dalam Alkitab, sesungguhnya mengandung beberapa penekanan :

Pertama, Ketetapan persembahan persepuluhan yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel membuat mereka terus menyadari bahwa apa yang dimiliki adalah pemberian Tuhan, sehingga harus menikmati semua pemberian Tuhan dengan sukacita, mereka bersyukur karena berkat Tuhan yang mereka terima dalam setiap jerih payah mereka. Saat mereka mengelola ladang mereka, Tuhan memberkati apa yang mereka kerjakan, saat mereka mengembalakan lembu sapi dan kambing domba mereka, Tuhan juga memberkatinya.

Kedua, persembahan persepuluhan mengajarkan supaya bangsa Israel hidup takut akan Tuhan. Bangsa Israel selalu hidup dengan rasa hormat dan takut akan Allah, bahwa satu-satunya Allah yang menyertai dan melindungi mereka ialah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Demikian dengan kita sebagai orang percaya atau gereja masa kini, saat memberikan persembahan seharusnya membuat kita selalu mengingat akan kemahakuasaan dan keagungan Allah yang kita sembah dan layani didalam Tuhan Kita Yesus Kristus. Membuat kita menghargai keberadaan Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing karena Dialah satu-satunya Allah Yang Maha Kudus. Kita sepatutnya hidup dalam takut akan Allah.

Ketiga, Tuhan mengajarkan bangsa Israel bahwa persembahan persepuluhan merupakan bukti kepedulian Tuhan atas kesetaraan sosial. Melalui persembahan persepuluhan yang diberikan bangsa Israel sebagai persembahan khusus bagi Tuhan, harus dinikmati oleh orang Lewi, orang-orang miskin, anak-anak Yatim, para janda bahkan orang-orang asing yang ada ditempat mereka. Tuhan mememelihara orang-orang miskin melalui persembahan persepuluhan mereka. Gereja masa kini, seharusnya memberikan perhatian yang sama kepada para pelayan yang mencurahkan seluruh hidupnya melayani Tuhan, orang-orang miskin, anak-anak yatim, para janda dan orang-orang asing yang membutuhkan pertolongan. Gereja dapat membantu anak-anak yang kurang mampu melalui beasiswa supaya mereka bisa melanjutkan pendidikan, gereja dapat membuat program bantuan ekonomi bagi para janda, gereja dapat membuat program pengobatan gratis bagi jemaat maupun masyarakat sekitar dengan menggunakan persembahan yang jemaat berikan.

Keempat, Tuhan memelihara para hamba-hamba Tuhan yang melayani Tuhan melalui persembahan yang diberikan. Orang-orang Lewi adalah orang yang tidak mendapat bagian sebagai milik pusakanya. Milik pusaka mereka adalah Tuhan, dan Tuhan memelihara orang-orang Lewi untuk berkerja di bait Allah melalui persembahan persepuluhan. Gereja masa kini, pendeta, pengurus gereja maupun jemaat seharusnya memberi perhatian kepada hamba-hamba Tuhan yang mengabdikan hidupnya melayani Tuhan dan memberikan dukungan mereka bagi pekerjaan Tuhan melalui persembahan mereka, seluruh harta mereka adalah milik Tuhan yang seharusnya dipakai untuk mendukung pekerjaan Tuhan.

            Gereja butuh dukungan dari jemaat melalui persembahan jemaat karena gereja membutuhkan biaya operasional untuk kelangsungan ibadah, Untuk keperluan hamba-hamba Tuhan baik pendeta maupun pelayan yang memberikan sepenuh hidup mereka melayani Tuhan, karena tidak memiliki pekerjaan dan pendapatan lainnya, mereka seharusnya mendapatkan perhatian dari gereja layaknya orang Lewi. Bahkan jika berkaca dari Perjanjian Lama, persembahan persepuluhan bisa digunakan untuk kegiatan perjamuan kasih ( dalam bentuk makanan ) di gereja untuk dinikmati bersama sebagai ucapan syukur akan pemeliharaan Tuhan. Tetapi yang menjadi keliru dalam penerapan persembahan persepuluhan saat ini ialah gembala menjadi pengelolah persembahan persepuluhan tanpa pertanggung jawaban yang jelas dan penggunaan persembahan yang tidak tepat sasaran.

Kelima, Memberi persembahan dengan menghitung "sepersepuluh" mungkin memang tidak tepat dan tidak relevan lagi dalam gereja masa kini. Tidak relevan bukan berarti tidak memberikan persembahan, tetapi berkaitan dengan menghitung sepersepuluh yang akan dipersembahkan. Jemaat seharusnya menyadari bahwa hidupnya sepenuhnya milik Tuhan, apapun yang ia miliki asalnya dari Tuhan, sehingga setiap jemaat dipercaya menjadi hamba yang mengelola berkat Tuhan. Seluruh hidup kita dipersembahkan kepada Tuhan.  Jemaat harus terbuka dihadapan Tuhan. Jemaat harus di didik dengan benar supaya mereka memberikan persembahan dengan kerelaan bukan karena paksaan. Apa yang Tuhan percayakan kepada kita sepenuhnya dalam kendali kita ,sehingga kita  memberikan dengan keterbukaan di hadapan Tuhan, dengan tulus dan iklas, terlebih melakukannya karena mengasihi Tuhan. Jemaat yang mampu tidak boleh kikir dalam mendukung pekerjaan Tuhan. Sedangkan jemaat yang tidak mampu, tidak boleh memaksakan diri, tidak perlu malu, tidak perlu takut, jika belum bisa memberikan persembahan, yang terpenting adalah ketulusan dan keterbukaan dihadapan Tuhan, hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan.

Keenam, Jemaat seharusnya memberikan persembahan bukan karena takut intimidasi dari gembala yang salah mengajarkan firman Tuhan. Sebaliknya gembala seharusnya mengajarkan jemaat memberi dengan benar bukan dengan "mengintimidasi" atau "menakuti" jemaat dengan dalih terkutuk, ada belalang pelahap yang mencuri berkatnya, dll untuk keuntungan pribadi. Masih banyak jemaat yang memberi persembahan karena takut akan kutuk yang akan mereka terima jika tidak memberi persepuluhan, mereka takut akan “belalang pelahap” yang akan mencuri berkat yang mereka miliki. Jemaat memberikan persembahan bukan dengan perasaan merdeka, tetapi karena ketakutan. Memberi bukan dengan dengan pemahaman yang benar tetapi terpaksa akibat perasaan gentar.

 

Penutup

            Memberikan persembahan persepuluhan merupakan ketetapan yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel untuk mengajarkan mereka selalu bersyukur akan pemeliharaan Tuhan, supaya mereka hidup takut akan Allah, supaya mereka memiliki kepedulian kepada pelayan, kepada orang asing, kepada anak-anak yatim, kepada para janda yang ada bersama dengan mereka. Persembahan persepuluhan bagi orang Israel bisa dimakan bersama dengan keluarga, orang asing, orang lewi, bersama dengan orang-orang miskin. Persembahan persepuluhan juga diperuntukkan untuk kepentingan rumah Tuhan supaya pelaksanaan ibadah dapat berjalan dengan baik. Persembahan yang mereka berikan harus dengan rasa hormat dan takut akan Tuhan, persembahan yang mereka berikan kudus dihadapan Tuhan.

            Gereja masa kini, harus mengajar jemaat dengan benar mengenai persembahan. Seluruh hidup orang percaya adalah milik Tuhan, semuanya harus diserahkan kepada Tuhan. Masing-masing kita dipercaya untuk mengelola berkat Tuhan sehingga kita harus bertanggung jawab dalam mengelola semua berkat yang Tuhan berikan. Kesadaran kita harus dibangun bahwa  kita semua harus mendukung pekerjaan Tuhan, dan kita melakukannya sebagai rasa syukur kita  kepada Tuhan karena pemeliharaan-Nya, dan membuat kita hidup takut akan Tuhan. Serta membangun kepedulian kepada sesama yang membutuhkan uluran tangan kita seperti anak-anak yatim dan para janda yang tidak mampu secara ekonomi.

            Pada sisi yang lain, gereja harus bertanggung jawab dalam mengelola persembahan yang sudah diberikan jemaat karena sejatinya persembahan adalah milik Tuhan. Keuangan gereja harus dikelola dengan benar sehingga penggunaanya tepat saasaran bukan untuk kepentingan individu, tetapi demi kemajuan pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, semuanya untuk kemuliaan Tuhan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus