LANGIT BARU, BUMI BARU DAN YERUSALEM BARU

 

LANGIT BARU, BUMI BARU DAN YERUSALEM BARU

Oleh : Naysalmin Lumbaa, M.Th

 

Pendahuluan

            Topik yang tidak bisa dilupakan ketika belajar eskatologi ialah membahas langit baru, bumi baru dan Yerusalem Baru. Topik-topik ini sering sekali menjadi bahan diskusi dalam kelas-kelas kuliah, tema seminar bahkan menjadi tema khotbah digereja. Langit baru dan bumi baru merupakan sebuah frasa yang hanya dapat ditemukan dalam kita Yesaya 65. Yesaya 66, Kitab 2 Petrus 3 dan Wahyu 21. Sedangkan kata Yerusalem yang berkaitan dengan Yerusalem baru hanya dapat ditemukan dalam Yesaya 65, Wahyu 3 dan Wahyu 21.

Mempelajari topik-topik ini dibutuhkan analisa yang mendalam terhadap teks yang berkaitan sehingga dapat menemukan makna yang sesungguhnya. Kekeliruan dalam pendekatan penafsiran terhadap teks-teks tersebut akan menghasilkan penafsiran literar bahkan alegoris. Dalam tugas presentasi ini penulis mencoba melakukan pendekatan secara biblika baik penafsiran literal maupun gramatikal untuk mendapatkan interpretasi yang mendekati makna yang sebenarnya.

 

Analisis kata

Kata “Langit”

Dalam Yesaya pasal 65, Tuhan memberikan janji kepada bangsa Israel bahwa Ia akan menciptakan langit baru.  Kata menciptakan menggunakan kata “bara”  dengan pengertian yang sama pada saat Allah menciptakan langit pada mulanya atau langit yang ada sekarang. Sedangkan kata langit diterjemahkan dari kata “shawmahyim” digunakan 2 kali dalam kitab Yesaya yakni Yesaya 65:17 dan Yesaya 66:22, kata ini memiliki kesamaan dengan kata langit dalam kitab kejadian. Kata shawmahyim merupakan kata benda jamak dengan gender maskulin, didefenisikan heaven ( surga), Sky atau langit.  Kata ini diadopsi dari dua akar kata yang tidak terpisahkan yaitu shaw meh yang dapat memberikan pengertian yang lebih tinggi yaitu langit yang dimaknai sebagai sebuah ketinggian, yang kedua mengacu pada lengkungan yang terlihat dimana awan bergerak atau yang lebih tinggi yaitu tempat benda langit berputar.[1]

            Penulis kitab Petrus mengutip janji Tuhan dalam kitab Yesaya 65:17, yang ditujukan kepada orang-orang percaya yang tersebar diperantauan dengan penekanan supaya sabar menantikan janji Tuhan tentang langit yang baru dan bumi yang baru yang sudah dijanjikan Tuhan, ternyata merujuk kepada Yesaya 65. Kata langit diterjemahkan dari kata “ouranos” yang dapat digunakan untuk mendefenisikan udara, surga atau langit dalam bahasa Indonesia. Kata uranos adalah kata benda begendre maskulin dengan kasus akusative tunggal.[2] Artinya, langit atau uranos merupakan sebuah benda tunggal sebagai objek  yang secara langsung diciptakan oleh Allah. Ouranos dalam teks tersebut didefenisikan heaven yang berarti surga yang dapat dilihat, atmosphere, atau langit atau langit/surga secara spiritual. Kata ini diterjemahkan dari asal kata oros yang didefenisikan langit atau surga sebagai tempat tinggal Tuhan.[3] Kata oros berimpilikasi kepada kekekalan yaitu kebahagiaan, kekuatan,keabadian dan secara khusus memiliki dampak besar bagi injil yang menjadi pusat pemberitaan dalam Kekristenan.

            Sedagkan Kitab Wahyu menuliskan frasa langit yang baru, sebagai sebuah penglihatan yang disaksikan oleh Rasul Yohanes ketika ia berada di Pulau Patmos. Kata langit yang digunakan disini ialah “uranos” atau “uranon” yang memiliki makna yang sama dengan kata uranos dalam kitab Petrus.

Kata “Bumi”

Dalam Yesaya 65:17, kata bumi diterjemahkan dari bahasa Ibrani “erets” yang didefenisikan bumi atau tanah.[4] Kata erets adalah kata benda Feminine singular atau tunggal. Dari kata dasar yang tidak terpakai untuk memberi penegasan bumi pada umumnya atau sebagian tanah. Kata ini bisa digunakan untuk mengartikan bumi, tanah, negeri, negara bahkan dunia. Memiliki kesamaan makna dengan kata bumi dalam kitab 2 Petrus 3: 13, diterjemahkan dari kata “ge” ( ghay). Kata benda feminin tunggal. Kata ini berarti bumi, tanah, wilayah, negara, atau penduduk suatu wilayah. Kata “ge” diambil dari kata utama tanah dengan ekstensi suatu wilayah, atau bagaian besar atau seluruh dunia. Kata ini digunakan dalam kitab Wahyu 21:1 dengan makna yang sama dengan kita 2 Petrus.[5]

 

Kata “Yerusalem”

Dalam kitab Yesaya 65, kata Yerusalem muncul dalam ayat 18  dan 19. Kata Yerusalem disini merupakan sebuah nama tempat atau penunjukan sebuah lokasi. Dalam Alkitab, Yerusalem bisa didefenisikan kota pondasi kedamaian namun bisa mengacu kepada kota Daud atau ibu kota Irael tetapi dalam teks ini yang dimaksudkan bukanlah Yerusalem secara fisik, karena diikuti oleh keterangan-keterangan yang dijanjikan Tuhan mengenai apa yang akan terjadi di dalamnya.[6]

Kitab Yesaya mengambarkan keadaan Yerusalem yang akan diciptakan Tuhan ini sesuai janji-Nya. Kota ini akan dipenuhi sorak-sorak dan kegirangan, bahkan Tuhan akan bersorak dan kegirangan karena Yerusalem dan umat-Nya yang ada didalamnya. Dikota ini tidak ada tangisan,tidak ada erang, penduduknya akan menikmati hidup yang panjang dan semua orang akan berbahagia karena penduduknya tidak saling merampas tetapi menikmati hasil pekerjaan masing-masing, dalam Yerusalem ada kedamaian, tidak ada kejahatan dan tidak ada yang berkelakuan busuk ( Band. Yesaya 65:18-25). Ayat-ayat ini seola-olah merujuk kepada pemulihan bangsa Israel secara fisik, sehingga bangsa Israel akan mengalami ketentraman dan kedamaian sepanjang masa.

Jika dibandingkan dengan Wahyu 3:12 dan Wahyu 21: 2, Yerusalem yang dimaksudkan memiliki kesamaan yang digambarkan dari situasi di kota itu. Yerusalem baru disebutkan bahwa kota itu turun dari Surga. Kata turun dari Surga menggunakan kata katabaino, artinya turun dari langit atau dataran yang lebih tinggi. Kata ini bisa bermakna literal tetapi juga figuratif.[7] Yerusalem disini disebut kota kudus, yang turun dari Sorga. Sebagai bukti bahwa Allah hadir ditengah-tengah umat-Nya, orang-orang kudus akan menjadi umat-Nya. Di kota ini tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi maut, tidak ada perkabungan, tidak ada ratap tangis, tidak ada dukacita, Yerusalem baru dipenuhi kemuliaan Allah, Kota yang sangat indah yang didandani dengan berbagai perhiasan indah dan mahal, Tidak ada lagi bait suci, karena Tuhan akan jadi bait Suci, tidak ada lagi matahati dan bulan karena kemuliaan Allah meneranginya dan anak Domba adalah lampunya, tidak ada kekejian dan dusat, tidak ada sesuatu yang najis masuk kedalamnya.

 

Kata “Baru”

 Kata baru yang digunakan dalam Yesaya 65:17 ialah hadasah (chadash)  Kata ini  merupakan kata sifat bergendre maskulin dalam bentuk jamak dengan kasus accusative.) yaitu suatu kata sifat yang mununjukan sifat dari benda yang berkaitan, atau berhubungan dengan benda baik itu subjek atau objek sebelumnya.[8] Dengan kata lain kata ini menjelaskan tentang langit yang bersifat baru, dan bumi yang bersifat baru. Cadash digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang benar-benar baru ( fresh ) atau hal yang baru ( new thing).

Dalam kitab 2 Petrus 3: 13, kata baru disini diterjemahkan dari kata “kainous” atau “kainos” ( baca kaheenos) yaitu sebuah kata sifat dengan gramatikal berkasus akusative, gender maskulin dan jumlahnya jamak. Kata ini memiliki kesamaan dengan kata chadash dalam Yesaya 65:17. Kainos dapat didefenisikan segar, baru, dan belum digunakan. Sedangkan dalam kita Wahyu 21: 1, kata baru diterjemahkan dari kata kainen atau kainos yang memiliki makna dan pengertian yang sama dengan kata baru dalam 2 Petrus 3:13.

Watts meulis bahwa hadasim (hadas) dalam septuaginta dan kainos memiliki arti yang sama yaitu “ baru”.  Hal ini menggambarkan sesuatu yang belum ada sebelumnya, yang belum ada sampai saat ini dan hal ini  yang membedakan dari yang sudah ada. Dengan demikian apa yang ada saat ini bersifat sementara dan akan digantikan dengan yang bersifat kekal. Secara eskatologi, bahwa setelah tatanan yang lama sudah ada, akan dihancurkan dan Tuhan akan menciptakan zaman baru dengan tatanan yang baru dan bersifat kekal. Dengan memperhatikan samayim dan ouranos, watts menulis bahwa langit mengacu pada makna surga yang menjadi tempat kediaman Allah, sedangan kata waares dan ge artinya tanah atau bumi merupakan suatu hal yang memberikan deskripsi totalitas alam semesta. Tanah dan segala yang ada diatasnya. Dengan demikian penggunaan kata baru dalam frasa langit baru dan bumi baru merupakan zaman baru yang dilambangkan dengan kehidupan Allah bersama umat-Nya.

 

Beberapa Pandangan  tentang Langit baru dan bumi baru

1.      John D. W. Watts menuliskan bahwa langit baru dan bumi baru sebagai karya Allah untuk memperkenalkan perubahan suasana dalam deskripsi langit baru dan bumi baru. Dengan demikian Yesaya menggambarkan suatu masa depan yang indah bagi umat-Nya.[9]

2.      Merrill C. Tenny menulis bahwa langit baru dan bumi baru, bahwa semua masih berpusat sekitar takhta yang merupakan sumber dari sungai kehidupan. Penekanan pada takhta mononjolkan konsep kemahakuasaan Allah dan kekekalan pemerintahan-Nya terhadap umat pilihan-Nya.[10]

3.      Simon J. Kistemaker mengatakan bahwa rasul Yohanes merujuk kepada Yesaya 65:17 dan 66:22, dimana Allah berkata bahwa Ia akan menciptakan langit baru. Dan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu tidak akan diingat lagi. Yohanes menegaskan bahwa langit dan bumi telah tersingkir dari hadirat Allah dan tidak ada lagi ditempatnya. Tidak berarti bahwa Allah aka melenyapkan langit dan bumi, lalu menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, dari yang tidak ada menjadi ada, tetapi Ia mengubah langit dan bumi melalui proses seperti Ia mengubah tubuh yang fana dari orang kudus menjadi tubuh kemuliaan. Peleburan unsur-unsur langit dan bumi dalam api merupakan persiapan bagi pembaharuan bumi.[11]

4.      Charles F.Pfeiffer dan Everett F.Harisson menuliskan bahwa Yohanes melihat langit baru dan bumi baru yang dibubuatkan nabi Yesaya. Dalam Perjanjian Baru terdapat dua kata yang dapat diterjemahkan menjadi baru yaitu “neos” dan “Kainos”. Tetapi dalam ayat ini yang digunakan iala “kainos” yang memberikan kesan, kehidupan baru yang muncul dari tengah-tengah kerapuhan dan kehancuran dunia yang lama. Sehingga teks ini tidak mengajarkan bahwa langit dan bumi baru ada yang pertama kalinya. Tetapi langit dan bumi ketika memiliki sifat yang baru secara kualitas.[12]

5.      Mattew Hendry ketika berbicara tentang langit dan bumi yang baru, memandang kepada kemahakuasaan Allah yang tiada habis-habisnya. Allah yang sama yang menciptakan satu langit dan bumi dapat menciptakan langit dan bumi lain. Lihatlah betapa utuh kebahagiaan orang-orang kudus itu. Kebahagiaan itu akan menyeluruh. Bersama langit yang baru, Allah akan menciptakan bagi mereka (kalau memang itu akan membuat mereka bahagia) bumi yang baru juga. Mattew Hendry mengindikasikan bahwa diciptakannya langit dan bumi baru, sebagai bukti kemahakuasaan Allah serta kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya yang akan menyebabkan kebahagiaan kekal.[13]

6.      Pandangan anihilasi atau penghancuran secara total dari langit dan   bumi   yang   sekarang.   Pada   umumnya   pandangan   anihilasi   beranggapan bahwa Tuhan akan menciptakan satu realitas baru dan akan  memusnahkan  realitas  yang  lama  (bumi  ini).  Pandangan  ini  menekankan discontinuity   (ketidaksinambungan) antara present creation (ciptaan   yang   sekarang/ciptaan   lama)   dengan future creation (ciptaan yang akan datang/ciptaan baru). Yang dianut oleh teolog Lutheran Althaus, T. Kliefoth, K. Hase, eza, Rivet, Junius, Wollebius dan Prideaux[14]

7.      Pandangan Pembaharuan dari Michael J. Gorman dalam penjelasannya terhadap Wahyu  21-22  menuliskan, Visi 'langit baru dan bumi baru' tidak berarti penghancuran dan penggantian dunia material tetapi transformasinya, terutama transformasi keberadaan manusia di dalam dunia material itu.”[15]

 

Pandangan-pandangan Penulis

1.      Tema tentang langit baru, bumi baru, serta Yerusalem baru dalam Yesaya 65, 66 dan 2 petrus 3, Wahyu 3 dan Wahyu 21 memiliki keterkaitan. Kitab Yesaya menuliskan secara langsung tentang janji Allah bahwa Ia akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, serta Yerusalem yang baru, Kitab 2 Petrus 3, menuliskan tentang peneguhan dalam Tulisan Petrus yang kembali di Ilhamkan Roh Kudus kepada Petrus untuk mengingatkan gereja Tuhan akan Janji Allah tentang Langit dan bumi yang baru. Sedangkan Kitab Wahyu merupakan penglihatan dalam ilham Roh Kudus tentang apa yang akan terjadi dikemudian hari.

2.      Tuhan akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, yang belum digunakan,  yang  benar-benar berbeda dari pada langit dan bumi yang sekarang. Karena langit dan bumi yang sekarang akan hilang, tidak akan diingat lagi dan tidak akan timbul dalam hati ( Yesaya 65:17), Langit dan bumi yang sekarang disimpan untuk penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik ( 2 Petrus 3:7 ), langit yang sekarang akan lenyap dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, bumi dan segala yang ada diatasnya akan hilang lenyap ( 2 Petrus 3: 10), langit dan bumi yang pertama telah berlalu ( Wahyu 21:1). Ketiga konteks tersebut saling memiliki penekanan yang sama bahwa bumi yang sekarang akan hilang lenyap.

3.      Dengan berpegang kepada penggalian penulis terhadap teks-teks tersebut, penulis berbeda pemahaman dengan beberapa pandangan yang beranggapan bahwa dunia yang sekarang akan direstorasi atau diperbaiki. Tuhan tidak memperbaiki dunia yang sudah tercemar dosa ini, tetapi Tuhan akan menciptakan langit dan bumi yang baru, sehingga Ia berkata “lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru! ( Wahyu 21:5). Karena Tuhan akan menciptkan yang langit baru dan bumi baru yang benar-benar fresh dan belum pernah terpakai sebelumnya. Meskipun kata baru yang digunakan “chadas” dan “Kainos” artinya baru secara sifat dan kualitas, tidak memberikan penekanan kepada pembaharuan dari langit dan bumi yang sudah ada. Tetapi menurut penulis, Tuhan akan menciptakan langit baru dan bumi yang baru dengan kualitas sempurna sebagai wujud dari kekekalan.

4.      Langit baru dan bumi yang baru merujuk kepada janji Allah yang dinubuatkan oleh Yesaya dan diteguhkan kembali oleh Rasul Petrus kepada Jemaat supaya teguh dan tekun menantikan janji Allah serta penglihatan Rasul Yohanes yang juga merujuk kepada Kitab Yesaya. Atinya tiga teks ini saling berkolerasi dan menegaskan tentang kemahakuasaan Allah dan kesetiaan-Nya terhadap janji-Nya. Ia akan menepati janji-Nya kepada orang-orang kudus-Nya yang setia menantikan kedatangan-Nya untuk dibawa masuk dalam kerajaan yang kekal, dimana Allah memerintah dan orang-orang percaya akan menjadi umat-Nya sepanjang masa, menikmati sukacita dan kebahagiaan kekal.

 

5.      Yerusalem baru bukanlah merujuk kepada Yerusalem ibu kota Israel saat itu. Tetapi merujuk kepada kerajaan Allah atau kekekalan dimana Allah bertahta, dan orang-orang kudus-Nya menjadi umat-Nya. Suatu tempat yang menunjukkan suasana kebahagiaan, sukacita, sorak-sorai, tidak ada kesedihan dan dukacita, karena orang-orang kudus akan hidup bersama dengan Allah dalam kekekalan. Kota ini bisa secara harafiah diturunkan Allah dari surga, tetapi juga bisa bermakna kiasan bahwa Yerusalem baru diberikan oleh Allah, dimana Allah menempatkan orang-orang kudus-Nya untuk menikmati sukacita dan kedamaian yang abadi didalam kekekalan.

 

 

Kesimpulan

            Melalui teks-teks Alkitab tersebut, sebenarnya gereja sudah diberitahukan bahkan diteguhkan kembali tentang janji Allah mengenai kekekalan. Janji Allah tentang langit baru dan bumi yang baru yang dijanjikan Allah dalam kitab Yesaya dan diberitakan kembali oleh Rasul Petrus kepada gereja, selanjutnya diterima Oleh Rasul Yohanes dalam penglihatan merujuk kepada kekekalan atau kerajaan Allah yang menjadi pengharapan orang-orang percaya. Tuhan akan membinasakan langit dan bumi serta unsur-unsur dunia yang ada sekarang, semua akan berlalu bahkan tidak akan ada ingatan lagi tentang apa yang sudah berlalu. Yerusalem baru merupakan bukti kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya, bertahta dan berkuasa sepenuhnya, menjadi jaminan bagi orang-orang kudus atau gereja Tuhan yang tetap setia untuk masuk dalam kehidupan kekal dan kebahagiaan kekal bersama dengan Tuhan. Gereja seharusnya menyadari kemahakuasaan Allah, yang akan membinasakan dunia, langit dan bumi yang ada sekarang yang sudah tercemar oleh dosa, dalam kemahakuasaan-Nya pula Ia akan menciptakan langit dan bumi yang baru yang kekal, dan Allah ada ditengah-tengah umat-Nya dalam kekekalan. Yang diperlukan gereja ialah tekun dalam menantikan janji Allah dengan hidup kudus, tidak bercacat tidak bercela dalam menantikan hari Tuhan yang pasti akan terjadi. Dialah Allah yang hidup, yang menepati setiap janji-janji-Nya termasuk kedatangan anak-Nya  yang kedua kali, menjemput orang-orang kudus-Nya masuk dalam kekakalan.

 

Salam LB3YB



[1] Aplikasi Hebrew / Greek Interlinear Bible

[2] Op.cit

[3] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=3772

[4] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=0776

[5] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=1093

[6] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=03389

[7] Aplikasi Hebrew / Greek Interlinear Bible. Loc. Cit.

[8] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=02319

[9] John D. W.Watts. : World Biblical Comentary :Isaiah 34-66, Dallas : Word, Incorporated, 2002 ( Worl Biblical Comentary 25 )

[10] Merril C Tenney., Survey Perjanjian Baru, Malang : Gandum Mas, 2001

 

[11] Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, Momentum 2001. Dikutip oleh Lamtoto Manalu dalam Jurnal Nubuatan tentang langit baru dan bumi baru dan penglihatan dalam perjanjian baru ( Suatu Studi Intertekstual Yesaya 65:17 dan Wahyu 21:1)

[12] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harisson, The Wycliffe Bibble Comentary, Malang, Gandum Mas 2001

[13] https://alkitab.sabda.org/commentary.php ; Tafsiran Alkitab dari Mattew Hendry ( Mattew Hendry 1662-1774)

[14] Herman Bavinck, The Last Things: Hope for This World and the  Next  (Grand Rapids: Baker, 1996), 156

[15] Michael  J.  Gorman,  Reading  Revelation  Responsibly:  Uncivil  Worship  and  Witness  Folowing  the  Lamb  Into  the  New  Creation  (Eugene: Cascade, 2011), 163. Paul Enns juga berpendapat bahwa, “The ‘new earth’ does  not  imply  ‘a  cosmos  tatally  other  than  the  present  world  one’  but  a  renewed  earth,  ‘in  continuity  with  the  present  one’.”  Paul  Enns,  Heaven Revealed: What Is It Like? What Will We Do? ... and 11 Other Things You’ve Wondered About (Chicago: Moody, 2011), 96.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkata dengan akal budi (Amsal 10:19)

Yesus dan Dua Orang Buta di Yerikho: Pelajaran Iman yang Mengubahkan (Eksposisi Matius 20:29–34) Oleh Pdt. Naysalmin Lumbaa, M.Th

Perjalanan Iman Para Gembala Bagian 3: Usaha Para Gembala Bertemu Kristus